Jakarta, (Tagar 16/9/2018) - Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro menyatakan, TGB M Zainul Majdi merupakan sosok seorang pemimpin yang patut untuk dicontoh oleh semua pemimpin daerah yang saat ini menjabat, karena selama 10 tahun ini Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi lebih baik di bawah kepimpinannya.

TGB, kata Bambang, berhasil mengurangi angka kemiskinan hingga turun 10% dan menjaga pertumbuhan ekonomi hingga 7%.

"Saya pelajari NTB dan selama di bawah kepimpinan TGB berhasil menorehkan pencapaian fonomenal bagi seorang gubernur dalam menangani kemiskinan. Bayangkan dari tingkat kemiskinan 24% pada 2008 lalu, turun 10 persen menjadi 14,7% pada 2018. Ini  bukan prestasi yang mudah di banyak daerah, bahkan pertumbuhan mencapai 7%," ujarnya.

Apresiasi tersebut disampaikan Bambang dalam talk show peluncuran buku TGBNomics: Ikhtiar NTB Untuk Indonesia dan Penggalangan Dana Untuk Lombok Sumbawa Bangkit, akhir pekan lalu, di Jakarta.

Dari malam Penggalangan Dana Lombok Sumbawa Bangkit berhasil terkumpul donasi sebesar Rp 5,519 miliar.  Donasi ini merupakan hasil dari lelang dua sepeda milik TGB dan lelang lagu-lagu yang dimainkan langsung oleh Elek Yo Band  yang beranggotakan Menteri Kabinet Indonesia Kerja, yakni Menteri Perhubungan Budi Karya, Menteri PUPR Basuki Hadimuoeljono, dan Kepala Bekraf Triawan Munaf yang membawakan lima lagu berkolaborasi dengan Yuni Shara dan Bertha.

Bambang yang juga menjadi narasumber dalam buku TGBNomics memberikan beberapa tanggapan terkait kinerja TGB selama menjabat Gubernur NTB. Dirinya menyatakan dengan tegas bahwa TGB merupakan sosok seorang pemimpin yang patut untuk dicontoh oleh semua pemimpin yang saat ini menjabat.

Bambang melihat Provinsi NTB menjadi lebih baik. Padahal banyak provinsi di Indonesia yang angka kemiskinannya masih menempati angka 20 persen. Hal ini membuktikan bahwa NTB telah bangkit dari kemiskinan.

"Bedanya, kemiskinan 14% memang lebih tinggi dari nasional (9,82%). Tetapi kalau melihat provinsi lain di atas 20%, itu masih banyak. Jadi ini bukan masalah kebijakan pusat.

Menurunkan kemiskinan perlu effort, karena kemiskinanan sifat multi-sektor, caranya tidak gampang. Bantuan itu bukan sustainable, jadi suatu kebijakan atau aksi berbagai aspek ekonomi menciptakan lapangan kerja dan mengurangi pengangguran untuk meningkatkan ekonomi seperti yang dilakukan TGB,” jelasnya.

Mengomentari buku TGBNomicsyang ditulis wartawan ekonomi senior Neneng Herbawati, Bambang menyatakan dapat memberikan pengalaman bagaimana seorang pemimpin daerah menerapkan kebijakannya dengan melihat potensi ekonomi dan kearifan lokal.

“Jadi kalau melihat upaya pemimpin daerah, terus terang banyak yang melihat anggaran pemerintah kurang dan itu selalu dijadikan sebagai alasan. Padahal saya tahu persis bahwa NTB itu dana transfer daerah enggak besar, tetapi gubernurnya inovatif. Jadi bukan banyaknya tetapi dengan kebijakan yang jelas di mana muaranya untuk mengurangi kemiskinan. Jadi yang menjadi ciri khas buku ini adalah kesungguhan kepala daerah menurunkan kemiskinan secara drastis."

Moeldoko: TGB Sudah Paripurna

Pada kesempatan launching buku TGBNomics, Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko hadir mewakili Presiden Joko Widodo. Moeldoko menyampaikan selamat dan apresiasi atas kerja TGB sebagai Gubernur NTB selama 10 tahun ini.

"Pak Presiden tidak bisa hadir karena ada tugas, beliau menugaskan saya untuk mewakili. Untuk itu, pertama ingin menyampaikan ucapan selamat dan sukses kepada Tuan Guru Bajang, Bapak Gubernur NTB M Zainul Majdi. Kami berpandangan bahwa Bapak telah menjalankan tugas dan mengakhirinya dengan paripurna," ujarnya.

Moeldoko menambahkan, pada buku TGBNomics banyak nilai-nilai positif yang akan didapat oleh para pembaca. Buku ini dinilainya buku dapat memberikan inspirasi kepada generasi muda depan bagaimana cara memimpin, sehingga dapat memajukan Bangsa Indonesia dengan baik.

Kemudian, Moeldoko menyampaikan beberapa gambaran mengenai Lombok yang dialaminya dan memberikan pesan-pesan dari Presiden Joko Widodo. Pesan yang disampaikan memberikan makna bahwa bencana yang terjadi di Lombok bukanlah suatu kemunduran untuk provinsi tersebut bangkit kembali, dengan tetap memegang teguh persatuan dan kesatuan bangsa.

"Selanjutnya, saya ingin menggambarkan sedikit tentang situasi Lombok. (Sejak gempa) Pak Presiden sudah tiga kali ke sana, tidur di tenda melihat betapa masyarakat menghadapi situasi yang sulit. Teman-teman yang ada di sini menghadapi kehidupan yang sangat jauh berbeda dengan lingkungan yang ada di sana. Oleh karena itu, saya hanya ingin mengimbau, mari kita membuat keseimbangan baru agar teman-teman kita yang saat ini menghadapi situasi yang sulit, teman-teman bisa berkontribusi untuk memberikan sesuatu walaupun sedikit tetapi penuh makna."

Selanjutnya, presiden selalu mengatakan bahwa aset terbesar bangsa ini adalah persatuan, kesatuan dan persaudaraan. Sebagai sebuah bangsa yang bersatu dan bersaudara maka sekali lagi, para hadirin yang ada di sini untuk bisa memberikan sumbangsihnya kepada saudara-saudara kita yang saat ini menghadapi situasi yang betul-betul sulit.

NTB, Nasib Ternyata Baik

Sementara itu, Zainul Majdi atau yang akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB) mengungkapkan bahwa dirinya sangat bersyukur atas peluncuran buku TGBNomics.

"Pada malam hari ini penuh kesyukuran bagi saya pribadi dan bagi kita semua dan syukur yang tidak terhingga karena bapak-bapak yang mulia dengan segala kesibukan untuk bangsa kita hadir. Tidak mudah mengumpulkan tokoh, alhamdulilah kehadiran bapak ibu merupakan sebuah kehormatan. Kahadiran ini bukan untuk mendengar sambutan saya atau untuk mendapat satu buku cetakan pertama, tapi saya yakin kehadiran semua bagian dari wujud nyata solidaritas, kebersamaan dan keciantaan terhadap kami warga NTB."

TGB menambahkan, buku ini merupakan gambaran tentang landasan-landasan, langkah-langkah, strategis, kolaborasi, sinergi dari seluruh pembangunan di NTB dengan kebijakan RPJM Nasional untuk memajukan ekonomi tumbuh sekaligus pada saat yang sama ada pemerataan dan keadilan.

"TGBNomicsini ikhtiar nyata sehingga dulu, kalau dulu sering diplesetkan “Nasib Tergantung Bali”, atau “Nanti Tuhan Bantu”, kita sering becanda akronim NTB. Tetapi ada keyakinan seluruh masyarakat NTB, sehingga NTB berubah jadi Nasib Ternyata Baik,” tambahnya.

TGB juga menjelaskan, menjadi pejabat publik yang dipilih rakyat baik bupati, wali kota, gubernur, hingga presiden dan wakil presiden termasuk anggota lembaga kedewanan itu tidak ada sekolahnya. “Tidak ada sekolah gubernur atau bupati. Tidak ada juga sekolah anggota DPR.

Oleh karena itu, sinergitas antara elected public position dengan birokrasi menjadi sangat penting.”

Menurut dia, pemimpin politik menghidupkan ideologi dan menyemaikan pemikiran-pemikiran besar, lalu struktur birokrasi lah yang menjalankannya. Di sinilah letak peran kepemimpinan dan komunikasinya yang demokratis dan efektif menjadi kunci utama. Praktik tata kelola pemerintahan efektif yang dijalankan pemerintah NTB bersama pemerintah pusat telah berjalan sangat baik.

“Insya Allah, apa yang telah dijalankan di NTB dapat menjadi bahan masukan dan pembelajaran bagi pelaku-pelaku politik pemerintahan saat ini dan masa depan. Dalam konteks nasional, membangun pemerintahan efektif dan demokratis telah dicontohkan oleh para pemimpin kita termasuk Presiden Joko Widodo,” ujar TGB. []