Bogor, (Tagar 12/6/2018) – Amien Rais sebagai seorang politisi menurut Presiden Joko Widodo bisa menjadi alternatif dalam proses pemilihan presiden mendatang.

"Saya kira sangat bagus, karena kita tahu beliau seorang tokoh politik yang saya kira nggak diragukan lagi," kata Presiden saat konferensi pers di Istana Bogor, Selasa (12/6).

Kepala Negara menyebutkan, Amien Rais memiliki pengalaman, senioritas di dalam kancah politik nasional yang tidak diragukan, serta kapabilitas dan leadership-nya juga tidak ada yang meragukan.

"Rekam jejak beliau juga saya kira nggak ada yang meragukan. Saya kira sangat bagus untuk berikan alternatif pilihan-pilihan dalam rangka pilpres ke depan. Saya kira sangat bagus," kata Presiden.

Enam Cuitan Yusril

Sementara itu, Ketua Umum DPP Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra menyatakan tak akan mengikuti langkah politik yang dilakukan Amien Rais.

"Tahun 2018 ini pun saya tidak ingin ikut-ikutan dengan manuver Pak Amien Rais, bukan karena saya apriori, tetapi saya belajar dari pengalaman," demikian pernyataan Yusril melalui Twitter @Yusrilihza_Mhd, Senin (11/6).

Di Twitter-nya, ada sembilan cuitan Yusril yang diunggah (posting) dalam menanggapi manuver Amien Rais.

Dalam cuitan pertamanya, Yusril menyatakan bahwa dalam pepatah Jawa ucapan pemimpin itu adalah "sabdo pandito ratu”. Artinya ucapan seseorang yang kedudukannya sangat tinggi, bagai seorang pandito (guru maha bijaksana) dan seorang ratu (raja).

Ucapan pemimpin itu, lanjut Yusril dalam cuitan keduanya, haruslah ucapan yang serius dan terpercaya. "Ucapan yang sudah dipikirkan dengan matang segala akibat dan implikasinya. Ucapan pemimpin itu akan menjadi pegangan bagi rakyat dan pendukungnya," ujarnya.

Cuitan ketiga, Yusril menyatakan bahwa ucapan pemimpin itu harus lahir dari hati yang tulus. Bukan kata bersayap, yang seolah diucapkan dengan kejujuran, tetapi di belakangnya mempunyai agenda pribadi.

"Karena ucapan pemimpin adalah sabdo pandito ratu, maka ucapannya tidak boleh 'mencla-mencle, pagi ngomong dele, sore ngomong tempe' artinya ucapannya berubah-ubah, inkonsisten, sehingga membingungkan rakyat dan pendukung," lanjut cuitan keempat Yusril.

Menurut Ketum PBB itu, ucapan pemimpin adalah sabdo pandito ratu, maka pemimpin itu tidak boleh "plintat-plintut" alias "munafiqun". Dalam makna, lain yang diucapkan, lain pula yang dikerjakan.

"Pemimpin seperti ini akan kehilangan kredibilitas di mata rakyat dan pendukungnya," demikian cuitan kelimanya.

Yusril berpedoman kepada pepatah Jawa "sabdo pandito ratu". Itu pula maka sejak awal dia (dalam cuitan keenamnya) tidak berminat ataupun tertarik dengan inisiatif Pak Amien Rais yang melakukan lobi sana-sini, untuk memilih siapa yang akan maju dalam Pilpres 2019 menghadapi petahana.

"Pengalaman, adalah guru yang paling bijak. Tahun 1999 dalam pertemuan di rumah Dr Fuad Bawazier, Pak Amien meyakinkan kami semua untuk mencalonkan Gus Dur. Saya dan MS Kaban menolak. Kami tidak ingin mempermainkan orang untuk suatu agenda tersembunyi," ungkap Yusril dalam cuitan ketujuhnya.

Di akhir cuitannya, Yusril mengatakan, pengalaman tetaplah menjadi guru yang bijak bagi dirinya dan berharap bagi orang lain juga.

Sebelumnya, Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais telah mengisyaratkan ingin maju menjadi bakal calon presiden 2019.

Amien Rais menyampaikan keinginannya itu usai berbuka puasa di rumah dinas Ketua Umum MPR, Zulkifli Hasan di Widya Chandra, Jakarta Selatan, Sabtu (9/6) malam.

Amien Rais menjelaskan, PAN akan mengusung empat bakal calon presiden dari partainya untuk ditawarkan ke partai koalisi yaitu dirinya, Ketua Umum DPP.PAN Zulkifli Hasan, mantan sekjen PAN Sutrisno Bachir, dan mantan ketua umum PAN Hatta Radjasa. (ant/yps)