Mataram, (Tagar 8/7/2018) - Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Nusa Tenggara Barat, Zamroni Aziz mengatakan jika ada yang mempunyai asumsi Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi mendukung kepemimpinan Presiden Joko Widodo untuk periode kedua karena terkait urusannya dengan KPK, itu anggapan yang salah.

"KPK itu lembaga independen yang tidak boleh diintervensi oleh siapa pun termasuk Presiden sekalipun," kata Zamroni di Mataram, Sabtu (7/7), dilansir Antara.

Zamroni mengapresiasi pernyataan TGB yang mendukung kepemimpinan Presiden Joko Widodo untuk periode kedua.

"Ini adalah hal yang biasa dalam dunia politik. Hal ini karena Tuan Guru Bajang (TGB) orang yang cerdas dalam menentukan sikap. Apalagi melihat realita politik hari ini, mau tidak mau harus diakui keberhasilan pembangunan pemerintahan Jokowi," ujarnya.

Menurutnya, indikator keberhasilan pembangunan Jokowi bisa dilihat dari program infrastruktur yang ada di NTB. Satu di antaranya adalah program Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika di Kabupaten Lombok Tengah.

Zamroni menuturkan selama ini perhatian Jokowi terhadap NTB begitu luar biasa merujuk kepada intensitas Presiden Jokowi mengunjungi NTB dalam berbagai event sebanyak delapan kali.

"Jika TGB hari ini menentukan pilihannya ke Jokowi, hal itu wajar, karena TGB merasa Presiden Jokowi sudah berbuat banyak untuk NTB," lanjutnya.

Dicoret dari Daftar Capres PA 212

Sehari sebelumnya, Gubernur Nusa Tenggara Barat Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi menegaskan dukungan dua periode terhadap kepemimpinan Presiden Jokowi tidak ada kaitannya dengan pemeriksaan KPK soal penjualan saham PT Newmont Nusa Tenggara.

"Tidak ada sangkut pautnya keputusan saya mendukung pemerintahan saat ini untuk periode selanjutnya dengan persoalan eksternal, baik itu terkait dengan KPK, Demokrat maupun masalah lainnya," kata TGB di Mataram.

Ia mengatakan, dukungan kepada Jokowi murni sebagai keputusan pribadi dan tanggung jawab sebagai anak bangsa.

"Saya telah mengamati situasi perpolitikan nasional selama empat tahun belakang ini. Dalam pandangan saya, gesekan dan polarisasi umat dengan menggunakan sentimen agama semakin mengkhawatirkan," katanya.

Karena itu, menurutnya, dalam dunia politik sentimen agama tidak boleh dilakukan, sentimen agama tersebut bisa dimanfaatkan untuk kemanfaatan umat.

Gubernur NTB dua periode ini juga menyatakan belum pernah berkomunikasi dengan Partai Demokrat terkait pernyataannya tersebut, termasuk dengan Dewan Muttasyar Nandlatul Wathan (NW).

Ia kembali menegaskan keputusannya mendukung Jokowi dua periode sebagai pernyataan pribadi dan tidak terkait dengan sejumlah persoalan lain.

"Itu pernyataan pribadi dan tidak ada sangkut paut dengan yang lain," tegasnya.

Disinggung namanya dicoret dari daftar capres yang dirilis oleh Persatuan Alumni (PA) 212, TGB menyatakan bahwa hal tersebut sebagai sesuatu yang wajar. Yang justru berbahaya menurutnya adalah menjustifikasi golongan lain yang tidak sepaham bukan sebagai bagian umat.

"Tidak usah terlalu dipersoalkan hal-hal yang bertolak dari prinsip. Ini keputusan saya. Saya tegaskan lagi bahwa pernyataan saya adalah pernyataan pribadi," katanya.

Sebelumnya pada Rabu (4/7), TGB menyatakan dukungan pada Presiden Joko Widodo untuk melanjutkan kepemimpinannya pada periode kedua sebagai Presiden RI, Rabu (4/7).

Menurut TGB, keputusannya mendukung Jokowi itu setelah melalui pertimbangan yang berkaitan dengan kemaslahatan bangsa, umat dan akal sehat.

Dia menilai selama Jokowi memimpin, pencapaian kawasan ekonomi khusus Mandalika di NTB sudah berhasil dan apabila ada pergantian di level kepemimpinan nasional, maka akan terjadi kemandekan baik dari segi ekonomi maupun sosial di wilayah Mandalika dan juga NTB.

Pernyataannya itu mengecewakan pihak-pihak yang awalnya mengaguminya termasuk PA 212 yang pernah menyatakan dukungan pada TGB sebagai calon presiden 2019.

Pemerataan Pembangunan

Sekretaris Umum Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) Nasyirul Falah Amru menilai dukungan Gubernur Nusa Tenggara Barat, Tuan Guru Bajang (TGB) Zainul Majdi kepada Joko Widodo untuk menjadi presiden dua periode, menegaskan dukungan kalangan ulama.

"TGB ini ulama, tokoh muslim, maka dukungan untuk Presiden Jokowi harus disambut baik umat Islam di Indonesia," kata Nasyirul Falah Amru.

Menurutnya, TGB pasti sudah menilai dari berbagai sisi sebelum menyatakan dukungan terhadap Presiden Jokowi. Karena hal mendasar yang dinilai TGB adalah keberhasilan Presiden Jokowi mewujudkan pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Indonesia.

Gus Falah menilai, TGB melihat dan menilai Jokowi menggunakan batiniah seorang ulama, dari berbagai sisi, yaitu sisi etos kerja, kepemimpinan, dan keislamannya.

"Cermin kemesraan para ulama bisa tercermin dari TGB, itu sebabnya dukungan TGB untuk Presiden Jokowi menggembirakan umat," ujarnya. (af)