Manado, (Tagar 16/9/2018) – Potensi pariwisata Sulawesi Utara (Sulut) makin mendunia. Terbukti, wisatawan yang datang berkunjung semakin banyak.

Kunjungan wisatawan terjadi sebagai dampak pelaksanaan kegiatan bertaraf internasional seperti Sail Bunaken dan World Ocean Conference (WOC) pada tahun 2009. Even ini membuat pesona Bunaken dengan keindahan taman lautnya makin tersohor.

Sulut memiliki kekayaan alam laut, taman laut, danau indah, kekayaan budaya, serta sejarah yang berpotensi sebagai obyek wisata.

MANADO FIESTA 2018Seorang wanita menggunakan kostum karnaval pada pembukaan Manado Fiesta 2018 di Kawasan Megamas, Manado, Sulawesi Utara, Jumat (31/8/2018). Beragam atraksi kesenian, kirab budaya, pawai perahu dan kendaraan hias ditampilkan pada kegiatan tahunan bertaraf internasional tersebut, yang bertujuan menunjang pariwisata kota Manado dan Sulawesi Utara. (Foto: Ant/Adwit B Pramono)

Pengamat Ekonomi dari Universitas Sam Ratulangi (Samrat) Manado, Dr Joy Tulung mengatakan, dampak Sail Bunaken 2009 sangat positif karena mendatangkan wisatawan dan menggerakkan sektor perdagangan makanan dan minuman sejak waktu itu, sampai sekarang.

“Kegiatan seperti itu sangat bermanfaat dan mendatangkan banyak wisatawan,” ujar Joy.

Dia mengakui, untuk membuat acara besar memang harus didahului dengan penataan infrastruktur yang memadai. Maksudnya, supaya wisatawan nyaman dengan fasilitas publik dan menunjang kegiatan mereka selama berwisata.

Akademisi Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado Agus T Poputra menimpali, pada prinsipnya kegiatan internasional Sail Bunaken bukan semata-mata untuk kepentingan Pulau Bunaken. Namun, juga untuk Sulut secara keseluruhan. Bunaken sebagai pemicu karena lebih dulu terkenal dari Sulut sendiri.

Tujuan itu, kata dia, telah tercapai. Perhotelan dan sarana penunjang pariwisata sudah berkembang pesat di Manado. Demikian pula infrastruktur seperti dermaga, jalan, fasilitas umum di Pulau Bunaken semakin baik.

Sinergitas pemerintah, pihak swasta, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), bank Indonesia berbondong-bondong ambil bagian di daerah tersebut dalam peningkatan infrastruktur penunjang sektor pariwisata.

REKOR MURI SELAM WANITA TERBANYAKRatusan perempuan bersiap menyelam di perairan teluk Manado, Manado, Sulawesi utara, Sabtu (11/8/2018). Sebanyak 928 penyelam wanita dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul untuk memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) kategori penyelam wanita terbanyak dan pembentangan bendera Merah Putih terpanjang di bawah laut, dalam rangka menyambut HUT RI ke-73. (Foto: Ant/Adwit B Pramono)

Kini Sulut sudah banyak dikenal. Mendatangkan wisatawan tidak lagi harus menunggu kegiatan besar, masih banyak kegiatan parsial yang dapat dilakukan untuk menunjang pariwisata.

Sail Bunaken 2009 merupakan acara internasional kerja sama antara Departemen Kelautan dan Perikanan dan TNI AL di Bunaken. Event yang memadukan beberapa kegiatan bahari ini dilaksanakan di Kota Manado dan Kota Bitung pada 12-19 Agustus 2009.

Agenda utama kegiatan tersebut adalah International Fleet Review 2009 (IFR 2009). Kapal-kapal perang dan kapal-kapal layar tinggi dari masing-masing Angkatan Laut 30 negara sahabat ikut berpartisipasi. Momen ini disaksikan langsung oleh Presiden RI, sekaligus sebagai rangkaian HUT RI ke-64.

Wisatawan Bertambah

Daniel Mewengkang mengatakan, Pemerintah Sulut terus mendorong agar sektor pariwisata berkembang pesat. “Karena sektor ini mampu meningkatkan perekonomian daerah,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Daerah Sulawesi Utara ini.

Setelah kegiatan internasional Sail Bunaken, berbagai program wisata terus dilakukan. Belum lama ini Festival Pesona Bunaken 2018 telah dilaksanakan, yang kembali menjadi ujung tombak Provinsi Sulut untuk meningkatkan kunjungan wisatawan.

“Kegiatan itu bertujuan untuk melestarikan alam dan seni budaya di Pulau Bunaken,” terang Daniel.

MANADO FIESTA 2018Sejumlah pria memeragakan tari Upasa yang merupakan tari perang etnis Bantik pada pembukaan Manado Fiesta 2018 di Kawasan Megamas, Manado, Sulawesi Utara, Jumat (31/8/2018). Beragam atraksi kesenian, kirab budaya, pawai perahu dan kendaraan hias ditampilkan pada kegiatan tahunan bertaraf internasional tersebut, yang bertujuan menunjang pariwisata kota Manado dan Sulawesi Utara. (Foto: Ant/Adwit B Pramono)

Kepala Bidang Pemasaran dan Promosi Disparda Provinsi Sulut, Voura Kumendong menambahkan, Festival Pesona Bunaken 2018 merupakan bagian dari" Calendar of Event" Wonderful Indonesia yaitu ajang untuk mempromosikan pariwisata Indonesia.

"Festival dimeriahkan dengan lomba perahu hias, karnaval budaya, lomba kolintang, lomba maengket, tarian kreasi baru dan acara hiburan menarik lainnya," jelas Voura.

Selain itu juga diselenggarakan Pameran Produk Unggulan Daerah 2018 di Manado Town Square. Pameran ini menampilkan berbagai produk unggulan dari berbagai daerah, meliputi produk fesyen, batik, tenun, bordir, aneka kerajinan, aksesoris, perhiasan, makanan minuman olahan, komoditas pertanian, perkebunan, kelautan, perikanan, dan juga informasi pariwisata nusantara.

Para wisatawan yang hadir juga diharapkan bisa menikmati keindahan alam bawah laut Bunaken. Atau menyambangi Danau Tondano, Pulau Siladen, dan Taman Nasional Tangkoko.
Manado juga bisa membanggakan seni kulinernya yang makin dikenal. Sebut saja ayam woku belanga, cakalang fufu, bubut tinutuan, dan ayam rica-rica yang memanjakan lidah. Daya pikat dan potensi ini membuat banyak investor mendatangi Manado dan menanamkan modalnya.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulut Ateng Hartono mengungkapkan, wisman yang berkunjung ke Provinsi Sulut semester pertama tahun 2018 mencapai 59.125 orang, masih didominasi oleh warga China.

Perkembangan wisman secara kumalatif Januari-Juni 2018 mencapai 59.125 orang, meningkat dibandingkan jumlah wisatawan mancanegara pada kurun waktu yang sama tahun 2017 yang hanya 34.173 orang.

Wisman yang datang kebanyakan warga China yaitu sebanyak 8.843 orang (87,49 persen), diikuti Singapura 197 orang (1,95 persen), Amerika 147 orang (1,45 persen), dan Australia 112 orang (1,11 persen).

REKOR MURI SELAM WANITA TERBANYAKSejumlah perempuan bersiap menyelam di perairan teluk Manado, Manado, Sulawesi utara, Sabtu (11/8/2018). Sebanyak 928 penyelam wanita dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul untuk memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) kategori penyelam wanita terbanyak dan pembentangan bendera Merah Putih terpanjang di bawah laut, dalam rangka menyambut HUT RI ke-73. (Foto: Ant/Adwit B Pramono)

Urutan berikutnya wisatawan asal Jerman 104 orang (1,03 persen), Hongkong 74 orang (0,73 persen), Inggris 68 orang (0,67 persen), Malaysia 55 orang (0,54 persen), Belanda 52 orang (0,51 persen), dan Jepang 41 orang (0,41 persen).

Wisatawan yang datang melalui bandara Sam Ratulangi pada Juni 2018 tercatat 10.107 orang atau meningkat 7,46 persen dibanding kunjungan Mei 2018 yang berjumlah 9.405 orang. Kunjungan wisman bulan yang sama pada Juni 2017 sebanyak 4.678 orang, Juni 2018 meningkat sebesar 116,05 persen.

Semua objek wisata diharapkan dapat ditingkatkan lagi, sehingga mengundang semakin banyak wisman yang datang. Pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya bisa saling bersinergi sehingga sektor pariwisata Sulut makin meningkat.

General Manager PT Angkasa Pura I Bandara Samrat Manado Minggus Gandeguai mengatakan, wisatawan asal Tiongkok masih terbanyak di antara jumlah turis mancanegara yang berkunjung ke Sulawesi Utara hingga semester pertama tahun 2018.

Menurut data Imigrasi Manado, turis China (Tiongkok) yang masuk melalui Bandara Sam Ratulangi mencapai 59.125.

Pada semester pertama 2018, turis Tiongkok masih mendominasi dibandingkan turis asing dari negara lain, seperti dari Singapura sebanyak 1.179 dan USA sebanyak 947 orang.

Minggus Gandeguai berharap semua pihak bekerja sama untuk memberikan pengalaman yang baik pada turis asing selama di Sulawesi Utara. Kunjungan wisman ke Sulut, menurutnya, akan meningkatkan sektor pariwisata dan berdampak baik pada pertumbuhan ekonomi.

Dampak Ekonomi

Wakil Ketua Kamar Dagang Industri (Kadin) Sulawesi Utara (Sulut) Ivanry Matu mengungkapkan, kegiatan pemerintah baik domestik maupun mancanegara akan berdampak pada ekonomi daerah.

Dermaga Pantai Liang BunakenDermaga Pantai Liang Bunaken di Pulau Bunaken. (Foto: manadobaswara.com)

Menurut dia, kalau boleh mengusulkan, Bunaken harus dikelola Pemda dengan membentuk badan khusus pengelolaan Bunaken yang berorientasi pada pariwisata dikombinasikan dengan konsep kearifan lokal untuk pemberdayaan masyarakat. Artinya harus berdampak secara ekonomi dengan tidak mengabaikan atau tidak merusak Bunaken.

"Sekarang ini adalah momentumnya karena turis China lagi banyak di Manado," kata Ivanry.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sulut Jhony Lieke mengatakan, jika semua terkelola dengan baik, dengan sendirinya pariwisata di Sulut akan maju pesat, karena "multiply effect" pariwisata banyak sekali.

Geliat pariwisata Sulut akan dirasakan banyak pihak. Masyarakat mendapat pekerjaan, pelaku usaha mendapatkan keuntungan lebih, pembayaran pajak makin tinggi, sehingga ekonomi maju dan rakyat sejahtera. (Nancy Lynda Tigauw/ant)