Banda Aceh, (Tagar 19/9/2018) - Pelaksana Tugas Gubernur Aceh, Plt Nova Iriansyah, menilai sistem perekonomian syariah atau ekonomi Islam yang diterapkan di beberapa perbankan mampu memberikan keuntungan bagi semua pihak. Sebab, kata dia, sistem ekonomi syariah lebih menekankan pada pemerataan distribusi pendapatan dan etika.

"Masalah etika merupakan hal yang paling ditekankan dalam sistem ini, sebab sistem syariah berlandaskan kepada Alquran dan hadits," kata Nova saat pembukaan Pertemuan Forum Riset Ekonomi dan Keuangan Syariah di Kampus Unsyiah, Selasa (18/09).

Pemerintah Aceh, kata Nova, juga telah memulai penerapan sistem perekonomian syariah yang dimulai dengan proses konversi PT Bank Aceh dari perbankan konvensional menjadi perbankan Syariah. Konversi itu merupakan yang pertama dilakukan sebuah bank umum di Indonesia.

Setelah dua tahun konversi itu berjalan, kata Nova, perkembangan Bank Aceh Syariah semakin menggembirakan. Sebab semua transaksi perbankan antara pihak Bank Aceh dengan nasabah dilakukan berdasarkan akad yang sangat transparan.

"Dengan perkembangan yang baik itu, kita berharap Bank Aceh Syariah tidak hanya dapat berkontribusi bagi pembangunan Aceh, tapi siap berperan untuk pembangunan nasional," kata Nova.

Nova menyebutkan, bukan hanya di Indonesia, konsep ekonomi syariah mulai banyak diterapkan hingga ke lembaga keuangan internasional. Hal ini dikarenakan konsep ekonomi syariah mengedepankan jalinan hubungan emosional yang kuat antara pihak perusahaan dan mitranya, sehingga nilai-nilai ekonomi berpadu dengan semangat sosial.

Dalam sistem ekonomi Islam, lanjut Nova terkandung prinsip segala sesuatunya adalah milik Allah, sedangkan manusia hanya memanfaatkannya. Dengan sistem itu, setiap individu akan diuntungkan tanpa mengorbankan hak individu lainnya, sebab ekonomi syariah menekankan pada prinsip-prinsip moral, yaitu kejujuran, keadilan, keseimbangan, kebenaran, tolong menolong dan kebersamaan.

Sementara itu Rektor Unsyiah Prof Samsul Rizal mengatakan, sistem pengelolaan perbankan secara syariah ini telah berkembang begitu cepat, terutama setelah komunitas muslim di beberapa negara berpenduduk muslim di dunia memperkenalkan sistem ini.

Dia menyebutkan di tahun 2009, sistem syariah ini telah merayap ke 300 bank dan 250 mutual funds di seluruh dunia.  Pada tahun 2014, sebanyak 2 triliun US dolar dana telah berpindah ke sistem ini. Nilai ini kira-kira 1% dari total aset dan uang perbankan di seluruh dunia, walaupun saat itu masih berkonsentrasi di GCC (Gulf Cooperation Countries) saja, yaitu Iran dan Malaysia.

“Pertumbuhannya semakin tajam dengan semakin terjepitnya negara-negara miskin dengan sistem perbankan umum yang didominasi oleh negara-negara barat, yang tak pernah mau menanggung “kerugian bersama” dari investasinya di negara yang sedang berkembang,” kata Samsul.

Kondisi ini akhirnya membuat masyarakat dunia sudah membuka diri dan menerima sistem perbankan syariah. Oleh sebab itu, Aceh sebagai daerah yang kultur Islamnya relatif lebih kental di Indonesia, idealnya menjadi rujukan sebagai daerah yang berhasil tumbuh melalui sistem perbankan syariah.

Di sisi lain, dibutuhkan studi yang mendalam untuk memperoleh formulasi tepat bagi pertumbuhan sistem keuangan syariah. Untuk itulah, Unsyiah sebagai perguruan tinggi berbasis riset sangat siap untuk menjadi simpul utama penelitian di bidang perbankan syariah ini.

“Saat ini, Unsyiah melalui Fakultas Ekonomi dan Bisnisnya telah memiliki program studi Ekonomi Islam, yang insya Allah akan dikembangkan menjadi salah satu pusat penelitian perekonomian islam dunia,” ujar rektor.

Universitas Syiah Kuala bekerjasama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) melaksanakan Forum Riset Ekonomi dan Keuangan Syariah (FREKS) mulai tanggal 18 – 20 September 2018 di Gedung AAC Dayan Dawood. []