Makassar, (Tagar 16/1/2019) - Badan Pusat Statistik menyebut jumlah penduduk miskin di Sulawesi Selatan berkisar 779 ribu jiwa pada September 2018. Jumlah itu menurun 64 ribu jiwa bila dibandingkan dengan kondisi bulan sama di tahun sebelumnya.  

Kepala Bidang Statistik Sosial BPS Sulsel Faharuddin mengatakan, presentase penduduk miskin di September 2018 sebesar 8,87 persen dari total penduduk. Presentase penduduk miskin mengalami penurunan dibandingkan angka 9,48 persen di September 2017.

"Presentase penduduk miskin mengalami penurunan baik daerah perkotaan maupun perdesaan selama September 2017-September 2018," kata Faharudin melalui siaran pers yang diterima Tagar News, Selasa (15/1).

Menurut data BPS, jumlah penduduk miskin di Sulsel berfluktuasi dalam lima tahun terakhir. Angka 779 ribu jiwa di bulan September 2018 merupakan yang terendah.

Faharuddin menyebutkan, komposisi penduduk miskin juga tak banyak berubah dari tahun ke tahun. Pada bulan September 2018, sebagian besar atau 78,36 persen penduduk miskin di Sulsel ada di daerah perdesaan.

"Pada bulan September 2017, penduduk miskin di Sulsel 79,84 persen berada di pedesaan," ujar Faharuddin.

Menurut Faharuddin, besar-kecilnya jumlah penduduk miskin sangat dipengaruhi oleh garis kemiskinan. Sebab, penduduk miskin digolongkan bagi mereka yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita per bulan di bawah garis kemiskinan.

Pada September 2017, garis kemiskinan di Sulsel senilai Rp 294 ribu lebih. Kemudian naik pada September 2018 senilai Rp 315 ribu lebih.

"Terjadi kenaikan sekitar 7,26 persen," ucap Faharuddin.

Dari catatan BPS Sulsel diketahui bahwa pengeluaran untuk sejumlah komoditi memberi sumbangan besar terhadap garis kemiskinan penduduk setempat. 

Tercatat, pengaruh pengeluaran beras paling besar bagi garis kemiskinan, yakni 19,03 persen di perkotaan dan 29,55 persen di perdesaan.

Setelah beras, rokok kretek filter jadi pemberi sumbangan terbesar bagi garis kemiskinan. Rokok kretek filter memegang sumbangsih pengeluaran 9,86 persen untuk wilayah perkotaan, serta 9,02 persen untuk wilayah perdesaan.

Selain dua komoditi tersebut, beberapa komoditi makanan dan bukan makanan yang menyumbang pengeluaran penduduk miskin. Antara lain kue basah, telur ayam ras, mi instan, gula pasir, perumahan, bensin, listrik, pendidikan, dan air.

"Sumber data utama  untuk menghitung tingkat kemiskinan tahun 2018 adalah data Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) berdasarkan konsumsi pengeluaran bulan Maret dan September 2018. Jumlah sampel 300 ribu rumah tangga supaya data kemiskinan dapat disajikan sampai tingkat provinsi," pungkas Faharuddin. []