Medan, (Tagar 26/5/2018) - Presiden Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU), Wira Putra, menegaskan sebagai mahasiswa dan warga Sumatera Utara  sangat menolak keras adanya politisasi suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) pada pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak 2018. 

Dia juga meyakini umumnya warga Sumatera Utara tiap pesta demokrasi  menolak politisasi isu SARA sebagai dagangan untuk meraup suara.

Wira mengatakan, Sumatera Utara (Sumut) merupakan miniatur dan selama ini menjadi barometer Indonesia untuk kerukunan antar  suku, umat beragama, ras dan golongan.  

SARA Tidak Laku
"Di Sumatera Utara kita sudah terbiasa hidup rukun walaupun berbeda suku dan agama, bisa menghargai walaupun berbeda bahasa, bisa saling memaafkan jika ada yang membuat kesalahan. Sangat tidak tepat jika ada yang ingin merusak kerukunan dan keberagaman Sumatera Utara melalui Pemilukada yang akan diselenggarakan beberapa waktu lagi," ujar Wira kepada Tagar di Medan, Sabtu (26/5).

Membuat perpecahan di Sumatera Utara dengan menjual isu SARA diyakininya tidak akan laku untuk dijual di Sumatera Utara.

"Politik gagasan dan perdebatan seputar program-program pembangunan yang dirasa lebih bermanfaat untuk dibahas dibandingkan dengan politisasi SARA," tuturnya.

Ia mengatakan dengan mengedepankan program dan gagasan,  membuat kampanye dinilai lebih elegan dan berkualitas karena dapat mencerdaskan para pemilih. Untuk itu, dia mengajak warga untuk menolak keras adanya kelompok yang ingin merusak tatanan demokrasi dan kerukunan antar Suku, Agama, Ras dan Golongan di Sumatera Utara.

"Jangan sampai Pemilukada justru dipenuhi oleh bibit kebencian, yang sengaja dimunculkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab," tandasnya. (wes)