Pontianak, (Tagar 29/9/2018) – Koordinator Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) Kalimantan Barat (Kalbar) Suherman mengungkapkan, menguatnya nilai tukar dolar AS terhadap rupiah masih belum berdampak pada pelaku usaha terutama UMKM.

"Naiknya dolar AS belum berdampak terhadap biaya produksi UMKM di Kalimantan Barat. Jangan sampai dolar AS naik BBM juga naik, itu sudah pasti berpengaruh. Kalau BBM naik biaya distribusi naik dan juga produksi naik pula. Kecuali memang bahan baku UMKM impor tentu ada naik," ujar Suherman di Pontianak, Sabtu (29/8).

Suherman meyakini, UMKM akan terus tumbuh mengingat terjadinya krisis di Indonesia pada tahun 1998 di mana UMKM waktu itu masih tetap tumbuh walaupun kondisi kritis.

"Pada krisis 1998 itu tak dipungkiri malah UMKM yang mampu bertahan dibandingkan dengan perusahaan besar yang paling banyak ekspor impornya yang malah rugi," ujarnya.

Lain dari pada itu, sebut Suherman, sejauh ini untuk ekspor dalam jumlah besar dari produk UMKM di Kalbar sendiri masih belum begitu besar. Akan tetapi produk pelaku usaha kecil sudah cukup laris pasaran luar.

"Wisatawan asing yang datang dari luar negeri membeli produk UMKM kita sebagai buah tangan, ini cukup banyak. Akan tetapi belum dapat dikatakan ekspor sebab bukan dalam jumlah besar," jelas dia.

Pihaknya dalam penguatan UMKM di Kalbar terus melakukan sejumlah pedampingan dengan berbagai program. Hal itu untuk kemajuan dan kekuatan ekonomi daerah.

"UMKM terus kita dampingi dan dorong naik kelas. Produksi, pengemasan dan pasar serta manajemen terus diperbaiki. Kontribusi UMKM sangat strategis," jelas dia.

Sementara itu, kurs dolar AS menguat lagi terhadap sebagian besar mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), karena para investor merespons sejumlah data ekonomi positif terbaru.

UNJUK RASA MAHASISWA LAMPUNGMahasiswa Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Lampung melakukan aksi teaterikal pada unjuk rasa terkait melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar di Tugu Selamat Datang Bandar Lampung, Lampung, Senin (10/9/2018). Dalam aksinya mahasiswa menuntut pemerintah segera melakukan tindakan dan bersikap tegas dalam mengkondusifkan iklim ekonomi dengan menekan pajak impor, dan fokus terhadap produk-produk dalam negeri dan meningkatkan perekonomian UMKM yang berbasis pada ekonomi kerakyatan. (Foto: Ant/Ardiansyah)

Sentimen konsumen AS menurut survei bulanan University of Michigan terhadap para konsumen yang dirilis pada Jumat (28/9) seperti dilansir Antaranews, melampaui angka tiga digit untuk ketiga kalinya sejak Januari 2004.

Indeks mencapai 100,1 dalam pembacaan akhir September. Namun, angka tersebut di bawah 100,8 yang diperkirakan para ekonom yang disurvei oleh Reuters.

Departemen Perdagangan, Jumat (28/9), mengatakan pendapatan pribadi AS meningkat 60,3 miliar dolar AS atau 0,3 persen pada Agustus, sementara belanja konsumsi pribadi (PCE) meningkat 46,4 miliar dolar AS atau 0,3 persen.

"Inflasi PCE inti bertahan pada 2,0 persen, tetapi itu siap untuk bergerak lebih rendah dalam waktu singkat. Jika ya, FOMC (Komite Pasar Terbuka Federal) akan merasa lebih sulit untuk membenarkan kenaikan suku bunga, terutama jika kurva sepenuhnya datar atau bahkan terbalik," kata Chris Low, kepala ekonom di FTN Financial, dalam sebuah catatan.

Indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, naik 0,26 persen menjadi 95,1339 pada akhir perdagangan.

Pada akhir perdagangan New York, euro jatuh ke 1,1610 dolar AS dari 1,1658 dolar AS pada sesi sebelumnya. Pound Inggris turun menjadi 1,3039 dolar AS dari 1,3087 dolar AS pada sesi sebelumnya. Dolar Australia naik menjadi 0,7223 dolar AS dari 0,7210 dolar AS.

Dolar AS dibeli 113,57 yen Jepang, lebih tinggi dari 113,42 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS naik menjadi 0,9792 franc Swiss dari 0,9775 franc Swiss, dan dolar Kanada merosot menjadi 1,2921 dari 1,3039 dolar Kanada. []