Jakarta, (Tagar 18/2/2019) - Indonesia menjadi negara tersubur di Asia Tenggara yang melahirkan unicorn atau perusahaan yang bernilai dan bervaluasi di atas US$ 1 miliar atau setara Rp 14 triliun (US$1 = Rp 14.000).

Saat ini di Asia Tenggara diketahui terdapat 7 perusahaan unicorn, dan 4 di antaranya ada di Indonesia. Perusahaan unicorn lokal yang mampu melirik para investor untuk menyuntikkan dana di sini adalah Gojek, Bukalapak, Traveloka dan Tokopedia.

Untuk mengembangkan potensi ekonomi dalam arus global ini, tahun 2019 pemerintah bahkan menargetkan akan melakukan penambahan satu perusahaan unicorn lagi. Bila itu benar terjadi, maka Indonesia akan menjadi negara tersubur yang melahirkan unicorn dalam revolusi 4.0 di kawasan Asia Tenggara.

Semua startup yang sukses saat ini berawal dari kerisauan manusia yang ingin hidup serba praktis, dengan memanfaatkan teknologi yang makin modern.

Seperti malas berbelanja ke mal, malas booking tiket dan kamar hotel, malas menyetop dan menunggu lewat taksi konvensional, malas menggunakan uang tunai untuk membayar segala kebutuhannya dengan keberadaan uang elektronik yang semua hal itu sudah teraplikasi oleh Gojek, Bukalapak, Tokopedia dan Traveloka.

Berikut ulasan Tagar News terhadap perjalanan empat unicorn, raksasa startup lokal:

1. Gojek

Aplikasi gojek sangat tren bukan hanya di kalangan milenial saja, karena gojek mampu melayani jasa transportasi antar jemput penumpang, kurir belanjaan barang, kurir dokumen ataupun makanan plus jasa antar, kurir pengiriman tukang pijat ke rumah, kurir pindahan rumah yang dapat memanfaatkan go box. Semua hal itu sudah dipenuhi oleh Gojek yang mengembangkan teknologi dan trasnportasi daring.

Gojek didirikan oleh Nadiem Makarim pada tahun 2010. Awalnya, Go-Jek cuma menawarkan layanan transportasi berbasis ojek online. Barulah pada 2015, perusahaan membesut aplikasi mobile untuk memudahkan pemesanan. Dari situ juga, Go-Jek mulai merambah lini bisnis lainnya. Mulai dari layanan pesan antar makanan, layanan cleaning service, layanan angkut barang, layanan kurir, layanan gaya hidup seperti salon, pijat, dan masih banyak lagi.

Tak cuma di Jabodetabek, perusahaan yang kini mengukuhkan diri sebagai penyedia layanan transportasi on demand ini juga telah memperluas wilayah operasionalnya. Tercatat, Go-Jek kini telah mengaspal di sejumlah kota besar Indonesia, mulai dari Bali, Bandung, Surabaya, Makassar, Medan, Palembang, Semarang, Solo, Malang, Yogyakarta, Balikpapan, Manado, Bandar Lampung, Padang, Pekanbaru dan Batam. Dan terbaru, Go-Jek dikabarkan bakal menyusul Papua. Bahkan, terbaru ini Gojek telah melakukan invasi bisnisnya ke Vietnam yang bernama Go-Viet.

2. Bukalapak

Bukalapak.com adalah ecommerce di Indonesia yang didirikan awal 2010 oleh Achmad Zaky dengan sumber daya sangat terbatas. Dalam kurun waktu kurang dari 2 tahun, bukalapak.com telah menjadi ecommerce yang sangat diperhitungkan, memiliki 25,000 seller dan 60,000 user. 

Ia mengaku tidak butuh modal besar untuk membangun perusahaan layanan online marketplace tersebut.

Setahun kemudian, sudah ada sekitar 10.000 pedagang UMKM yang bergabung di unit bisnis milik Zaky sehingga  pertumbuhan Bukalapak yang sangat pesat menarik minat  banyak investor untuk menanamkan modal di Bukalapak. Beberapa di antaranya adalah 500 startup, Batavia Incubator, IMJ Investment, dan juga Elang Mahkota Teknologi Tbk atau lebih dikenal dengan Emtek Group.

Kini Bukalapak telah berkembang dengan pesat, dan dianggap berhasil menjadi high impact enterprise di Indonesia melalui bisnis market place online. Bukalapak ingin mendorong para UKM agar memanfaatkan teknologi internet untuk dapat meluas pangsa pasarnya. Para UKM dapat berjualan secara profesional dengan memanfaatkan platformnya, dan tentu saja dengan sistem yang lebih aman dan terpercaya yang menjembatani antara pelapak maupun para pembeli.

unicornIlustrasi unicorn

3. Tokopedia

Tokopedia kini menjadi situs jual beli online yang paling populer bagi netizen Indonesia. Survei Mastel dan APJII 2016 menunjukkan bahwa aplikasi Tokopedia adalah aplikasi yang paling sering digunakan (50,7 persen) oleh penggemar jual beli online se-Indonesia, mengalahkan Lazada (46,7 persen) dan Bukalapak (39,7 persen).

Lebih dari satu juta masyarakat Indonesia telah memulai bisnis mereka di Tokopedia. Pendapatan merchant di e-commerce lokal ini sudah menembus Rp 1 triliun per bulan. Kota dengan transaksi terbanyak antara lain Jabodetabek, Surabaya, dan Bandung. Total pengguna aktif di Tokopedia dua kali lipat lebih besar dibandingkan pemain e-commerce lain. Setiap bulannya, total kunjungan halaman di situs ini juga sudah mencapai 1,3 miliar laman.

Di sisi lain Tokopedia juga menyaksikan terciptanya jutaan lapangan pekerjaan baru, lewat para individu dan pemilik bisnis yang membuka dan mengembangkan bisnis mereka di Tokopedia. Mereka dapat mengejar impian mereka, membangun bisnis yang langsung menjangkau pelanggan dari Sabang hingga Merauke, dimulai dari Tokopedia. Saat ini per bulannya, sudah lebih dari puluhan juta produk yang terjual, melambangkan puluhan juta kepercayaan dan peluang tercipta setiap bulannya di Tokopedia.

4. Traveloka

Tepat saat Ferry Unardi berusia 23 tahun, ia memutuskan untuk melangkah keluar dari zona nyaman. Ferry melihat pada waktu itu, Startup di bidang reservasi tiket, adalah startup yang akan booming dan menjadi tren. Banyak investor berlomba-lomba untuk masuk ke industri startup dalam hal reservasi tiket. Ferry berpikir bakal ketinggalan gerbong, jika tidak segera memulainya.

Konsep bisnis Traveloka pada tahun 2012 adalah situs pencari dan pembanding tiket pesawat. Traveloka didirikan oleh tiga orang bersahabat: Derianto Kusuma, Ferry Unardi, Albert. Singkat cerita, Ferry melihat bahwa orang-orang tidak hanya ingin mencari tiket yang murah, tetapi juga ingin memesan langsung tiket. Pada pertengahan tahun 2013, Traveloka berubah menjadi situs reservasi (pemesanan) tiket pesawat.

Sejauh ini Traveloka sudah mendapatkan pendanaan dari beberapa perusahaan modal ventura (venture capital). Pendanaan pertama berasal dari East Ventures pada tahun 2012 dan Global Founders Capital pada tahun 2013. []

Baca juga: