Kupang, (Tagar 30/6/2018) - Pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Kupang, Dr Ahmad Atang mengatakan, kemenangan pasangan Viktor Bungtilu Laiskodat-Joseph Nae Soi (Vicktory-Joss) dalam kontestasi Pilgub NTT, telah mematahkan spekulasi tentang menguatnya politik identitas sebagai preferensi politik masyarakat NTT.

"Menguatnya politik identitas ini beralasan karena NTT secara sosiologis sangat multikultur, sehingga pertimbangan yang berbasis tradisional ikut bermain dan beroperasi dalam politik pilkada," kata Ahmad Atang seperti dilansir Antara di Kupang, Sabtu (30/6).

Dia mengemukakan hal itu, terkait spekulasi dan diskursus tentang menguatnya politik identitas sebagai preferensi politik masyarakat dalam Pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur NTT (Pilgub) 2018.

Menurut dia, menguatnya politik identitas sangat beralasan, karena NTT secara sosiologis sangat multikultur, namun hasil Pilgub yang dimenangkan oleh Victory-Joss tidak mencerminkan adanya ikatan politik identitas.

Secara faktual kata dia, hal ini menggambarkan jika publik NTT sudah sangat cerdas dan dewasa dalam politik sehingga mampu keluar dari bingkai politik primordialis.

Dengan demikian, politik lokal di NTT sedang bergeser dari politik tradisional yang berbasis primordial ke politik rasional yang berbasis akal sehat.

Karena itu, ?apresiasi perlu berikan kepada pasangan calon nomor urut 4 yang meraih dukungan masyarakat dalam pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur NTT periode 2018-2023 yang berlangsung Rabu (27/6).

"Keberhasilan ini menurut saya merupakan kombinasi antara kapasitas pasangan calon dan mesin partai," katanya.

Jika figur yang mumpuni dan ditunjang oleh mesin partai yang bergerak secara masif maka hasil akhir adalah kemenangan, namun figurnya bagus tapi mesin politik tidak bergerak maka akibatnya adalah kekalahan.

"Termasuk juga mesin politiknya bagus namun figurnya kurang diterima publik, apalagi figurnya lemah dan mesinnya tidak bergerak, maka kekalahan adalah sebuah kepastian," katanya.

Oleh karena itu, antara yang kalah dan yang menang dapat mengevaluasinya, mana yang menjadi kekuatan dan kelemahan setelah hasil pilkada diperoleh.

Mengenai dinamika, dia mengatakan, dinamika pilkada telah memberikan pelajaran dan pembelajaran politik, dimana para kompetitor telah menunjukkan sikap elegan dalam menerima hasil pilkada.

"Inilah modal sosial dan modal politik yang baik untuk bersatu membangun NTT lima tahun ke depan," katanya menambahkan.

Hasil hitung cepat yang dilakukan lembaga survei menunjukkan, paslon Victory-Joss sebagai pemenang, dengan mendapatkan dukungan masyarakat sebesar 35,17 persen.

"Bahwa hasil perhitungan resmi KPU sebagai penyelenggara sedang dalam proses, namun dalam banyak pengalaman hasil survey tidak jauh berbeda dengan hitungan resmi," kata Ahmad Atang.

Fakta ini menegaskan bahwa kemenangan paslon Victory-Joss hanya menunggu tahapan untuk disahkan dan dilantik menjadi Gubernur NTT periode 2018-2023.

Rakyat NTT patut diberikan apresiasi karena telah memberikan mandat kedaulatan kepada pasangan calon yang dipercaya melalui Pilgub 27 Juni kemarin, kata Ahmad Atang menambahkan. 

Staf Ahli Menko Polhukam Dr Sri Yunanto menilai pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak yang digelar di 171 daerah berjalan lancar dan aman.

"Ini sangat membanggakan. Suksesnya Pilkada serentak 2018 ini merupakan kemenangan akan kepentingan bangsa di atas kepentingan golongan," katanya di Jakarta, Jumat (29/6) kemarin.

"Juga secara moral adalah buah dari keikhlasan semua pihak sebagai bangsa Indonesia yang cinta damai dan menjunjung tinggi persatuan," tambahnya.

Selain itu, keberhasilan Pilkada serentak 2018 juga menjadi bukti bahwa bangsa Indonesia mampu menjalani proses demokrasi yang sehat dan kompetitif, katanya.

Yunanto menilai sukses Pilkada serentak ini menjadi bukti demokrasi di Indonesia sudah berada pada relnya, sekaligus membuktikan bahwa bangsa Indonesia sangat adaptif mengikuti realitas dan perkembangan zaman.

"Memang demokrasi yang dijalankan belum sempurna, tapi ini sudah sangat bagus," katanya (ant/rmt)