Jakarta, (Tagar 22/6/2018) - Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Wasisto Raharjo Jati menilai, penyebaran berita bohong atau hoaks yang terjadi saat ini telah terkapitalisasi menjadi alat oposisi untuk mengkritik presiden agar tidak membelenggu kebebasan berekspresi.

“Hoaks kini justru telah terkapitalisasi isunya menjadi alat oposisi untuk mengkritik pemerintah agar jangan membelenggu kebebasan berekspresi,” ungkap Wasisto kepada Tagar, Jumat (22/6).
Pihak oposisi tersebut, lanjut Wasisto, juga memanfaatkan penyebaran hoaks untuk mendiskreditkan Presiden.

“Sebenarnya pihak oposisi juga terbantu adanya hoaks ini untuk mendiskreditkan pemerintah. Kita bisa lihat pihak mana yang diuntungkan dan dirugikan dari hoaks itu. Saya lihat hoaks itu langsung muaranya ke presiden,” paparnya.

Terkait itu, Wasisto pun menduga adanya unsur politik di dalam penyebaran hoaks. Menurutnya, jika tidak segera diatasi, dampaknya bisa mengancam integrasi bangsa dan negara, salah satunya adalah terjadi perang sipil.

“Unsur politik jelas ada. Namun kita perlu memperlebar skala bahwa hoaks ini bisa mengancam integrasi bangsa dan negara bila tak ditanggulangi. Ini mirip strategi pecah belah ala kolonial,” ucapnya.

Meski hoaks diproduksi melalui norma-norma pers, Wasisto mengatakan, pelaku hoaks bukan pers ataupun praktik jurnalisme, sehingga dalam menangkalnya diperlukan pula fungsi dari Dewan Pers.

“Penegasan definisi bahwa hoaks bukan pers dan praktik jurnalisme meski itu diproduksi melalui norma-norma pers. Saya pikir Dewan Pers bisa mengoreksi dan supervisi substansi dari setiap situs berita online,” kata dia.

Tidak hanya Dewan Pers, menurut Wasisto, Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) sebagai regulator dan korporasi penyedia jasa internet juga mempunyai andil sebagai operator untuk mem-filter atas penyebaran hoaks ini.

Hoaks, Kabar Direncanakan

Sementara itu, Ahli Komunikasi dari Universitas Indonesia (UI) Profesor Muhammad Alwi Dahlan menjelaskan, hoaks merupakan kabar bohong yang sudah direncanakan oleh penyebarnya.

"Hoaks merupakan manipulasi berita yang sengaja dilakukan dan bertujuan untuk memberikan pengakuan atau pemahaman yang salah," ujar Alwi seperti dikutip Antara.

Dia menjelaskan, ada perbedaan antara hoaks atau berita bohong biasa, karena hoaks direncanakan sebelumnya. "Berbeda antara hoaks dengan berita karena orang salah kutip. Pada hoaks ada penyelewengan fakta sehingga menjadi menarik perhatian masyarakat,” ujarnya.

Mantan Menteri Penerangan tersebut menegaskan, hoaks sengaja disebarkan untuk mengarahkan orang ke arah yang tidak benar. (sas)