Surabaya, (Tagar 16/5/2018) - Pelaku bunuh diri sudah tidak diakui keluarga mereka. Sampai saat ini, tak satu keluarga mereka yang menjenguk atau bahkan mengambil jenazah mereka.

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera mengatakan bahwa kakek dan paman Aisyah Putri, anak dari pelaku bom bunuh diri di Mapolrestabes Surabaya sempat mengunjungi Aisyah. "Tapi mereka tidak mengakui orang tuanya (Aisyah), hanya mengakui Ais," kata Barung.

Tak hanya jenazah Tri Murtiono, istri dan dua anaknya, sembilan jenazah lainnya juga belum ada yang menjenguk apalagi mengambil. Barung menandaskan, jika nantinya tidak ada keluarga yang mengambil jenazah mereka, maka Polda akan memakamkan mereka.

"Ya nanti akan dimakamkan, tapi tentu ada prosesnya dulu," kata Barung. Proses yang dimaksud adalah pihak Polda terlebih dulu mengumumkan pada pihak keluarga untuk mengambilnya. Pengumuman dilakukan tiga kali.

Setelah pengumuman tiga kali selama dalam waktu tujuh hari dan tetap tidak ada pihak yang mengambil jenazah para pelaku teror bom bunuh diri ini, maka masih ada waktu tiga hari lagi untuk menunggu. Setelah tiga hari tetap tidak ada yang mengambil, Polda Jatim berhak menguburkan mereka.

Untuk tempat dimana mereka dikuburkan, kata Barung, akan ditentukan nanti. Seperti yang telah diketahui, seluruh jenazah pelaku bom bunuh diri ditempatkan di RS Bhayangkara sebagai pusat Disaster Victim Indentification (DVI) untuk dilakukan identifikasi terlebih dulu.

Tak hanya jenazah para pelaku bom bunuh diri saja, tapi jenazah para terduga teroris yang terpaksa dilakukan penindakan tegas akibat melawan saat dilakukan penggerebekan juga di tempatkan di RS Bhayangkara. Demikian juga dengan para korban luka-luka juga ada yang menjalani perawatan di Rumah sakit milik Polda ini. (lut)