Semarang, (Tagar 7/9/2018) - Perajin tempe di Semarang Jawa Tengah menggunakan kedelai impor dalam memproduksi tempe. Alasannya dengan bahan baku kedelai impor, hasil tempe lebih bagus. Sedangkan kalau memakai kedelai lokal, hasilnya kurang mengembang. Namun di sisi lain saat dollar naik, perajin tempe merasakan kenaikan harga bahan baku kedelai.

Melemahnya rupiah terhadap dollar Amerika hingga hampir menyentuh Rp 15 ribu per 1 USD, membuat perajin tempe di Semarang, Jawa Tengah, mulai kelimpungan. Mereka pun terpaksa mengurangi ukuran berat tempe untuk mempertahankan omzet.

"Tiap bungkus plastik tempe terpaksa kami kurangi sekitar 5-8 gram, nyusut sedikit," ungkap Muhammad Sofyan, 21,  perajin tempe di Kampung Bedagan Baru No 15, Kecamatan Semarang Tengah, Semarang, Jumat (7/9).

Sofyan menjelaskan usaha tempe miliknya merupakan usaha warisan yang telah dirintis kakeknya puluhan tahun lalu. "Saya generasi ketiga," ujar dia. Bukan perkara mudah menghadapi berbagai tantangan usaha namun semua bisa dilalui hingga saat ini. Termasuk tantangan melemahnya rupiah di mata dollar AS sekarang yang berimbas pada terkereknya bahan baku tempe, kedelai.

"Bahan bakunya kedelai impor, hasil tempe lebih bagus. Kalau pakai kedelai lokal, hasilnya kurang bisa mengembang," jelas dia.

Naik Rp 200

Sofyan mengaku tiap hari membutuhkan tiga kuintal kedelai untuk memproduksi tempe. Karenanya, jika dollar terus menguat akan sangat mempengaruhi laju usaha miliknya.

"Awal pekan ini harga kedelai sudah sampai Rp 7.500 per kilogram, naik Rp 200 dari harga sebelumnya yang Rp 7.300 per kilogram," papar dia.

Sofyan sendiri mengaku belum berani melakukan penyesuaian harga jual tempe kendati harga kedelai terus terkoreksi. Ia khawatir jika harga tempe naik akan berimbas pada omzet.

"Pelanggan bisa protes, nanti tidak lagi beli kalau harga tempenya kami naikkan," ujar dia.

Karenanya dengan sedikit mengurangi ukuran produksi tempe menjadi salah satu kiat jitu untuk survive di tengah tekanan dollar AS. "Ukuran dikurangi sedikit tapi harganya tetap, tempe ukuran plastik kecil Rp 2.500, tempe sedang Rp 3.500 dan ukuran besar Rp 5.000. Ini masih bisa dipahami pembeli ketimbang kami menaikkan harga," imbuhnya.

Sofyan berharap pemerintah bisa melakukan intervensi fiskal agar harga kedelai bisa kembali pada kondisi ideal, di bawah Rp 7.000 per kilogram. Pada kurs saat ini, untuk bisa mempertahankan produksi sudah hal luar biasa.

"Memang untungnya agak berkurang tapi tidak masalah daripada gulung tikar. Tapi tentunya harus ada perhatian dari pemangku kebijakan agar harga kedelai tidak naik terus," tandas dia.

Pantauan Tagar News di tingkat pengecer di Semarang, harga tempe belum ada perubahan signifikan. "Masih tetap," tutur Mbak Inul, pedagang sayuran keliling di kawasan Ketileng, Kecamatan Tembalang. Sebagai pedagang kecil di tingkat niaga paling bawah dirinya hanya menyesuaikan harga kulak sayuran, termasuk tempe, dari pedagang besar atau grosir di Pasar Peterongan.

"Tempe yang saya jual itu ngecer, dipotong kecil-kecil, Rp 3.000 per potongnya. Yang jelas kalau dari sananya (harga) tetap, saya tetap. Tapi jika kulaknya naik ya saya naik, kalau tidak dinaikkan nanti saya tidak bisa kulakan lagi," tukas dia. []