Blitar, (Tagar 16/5/2018) - Terduga teroris Ketua Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Jawa Timur Abu Umar alias AU alias Syamsul Arifin sudah diamankan oleh Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri.

Syamsul Arifin (37) asal Desa Jatinom, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, dikenal sebagai ustaz oleh para tetangganya.

Ketua RT di lingkungan Syamsul Arifin, yaitu Sutikno mengatakan Syamsul memang warga yang tinggal di lingkungannya. Ia sudah lama tinggal dan keseharian dikenal sebagai ustaz.

"Dia betul warga sini, sejak kecil di daerah sini. Untuk kesehariannya, setahu saya dia ustaz," kata Sutikno di rumahnya, Desa Jatinom, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, Rabu (16/5).

Ia mengatakan, sosok Syamsul dikenal baik, namun ia tidak terlalu akrab. Ia terakhir kali bertemu dengan yang bersangkutan sekitar lima hari lalu, setelahnya sudah tidak tahu lagi, hingga mendengar kabar warganya itu dibawa oleh polisi.

Perihal istri Syamsul, Sutikno mengaku juga tidak terlalu akrab. Dirinya hanya tahu keseharian istri Syamsul lebih banyak di rumah. Sesekali dirinya bertemu saat istri dari Syamsul itu jalan-jalan.

"Kalau istri di rumah, tidak ada kegiatan. Sehari-hari jalan saja," katanya.

Sementara itu, Kurniawan, salah seorang tetangga mengatakan sebenarnya Syamsul mempunyai hubungan baik dengan tetangga, tapi untuk di luaran dirinya tidak tahu. Syamsul biasanya berjualan buku. Ia juga tidak menyangka jika tetangganya itu dibawa aparat penegak hukum.

"Kalau keseharian jualan buku. Di lingkungan juga biasa, hubungannya baik dengan para tetangga, hanya di luaran saya tidak tahu," katanya.

Rumah Syamsul yang ada di Desa Jatinom, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, telihat sepi. Namun, tidak ada garis polisi yang ada di rumah tersebut, walaupun polisi telah membawa yang bersangkutan. Untuk dua anak mereka, belum diketahui pasti, termasuk apakah ikut dibawa petugas.

Sebelumnya, Tim Densus 88 Mabes Polri dilaporkan telah menangkap Ketua Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Jawa Timur Abu Umar alias AU di Singosari, Kabupaten Malang. Hal itu diungkapkan oleh Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

Jaringan JAD Surabaya terduga pelaku teror di Surabaya menggunakan bahan bom berbahaya berjuluk 'The Mother of Satan' yang biasa digunakan oleh ISIS.

Kapolri Tito mengungkapkan kelompok JAD Surabaya membuat bom pipa dengan bahan peledak triacetone triperoxide (TTATP). Menurut Tito, bahan peledak TTAP sangat dikenal oleh anggota Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Tito menjelaskan bahan TTATP sangat berbahaya. Di kalangan ISIS, bahan ini dikenal dengan sebutan the mother of satan.

"TTATP dikenal dengan sebutan 'the mother of satan', ibu dari para setan. Karena bahan ledak tinggi," ujar Tito.

Kepala Bidang Humas Polda Jawa Timur Komisaris Frans Barung Mangera mengungkapkan AU adalah Abu Umar alias Syamsul Arifin warga Desa Jatinom, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar. Ia ditangkap bersama istrinya Wahyu Mega Wijayanti (40) di sebuah rumah kontrakan di Singosari, Malang.

Selain menangkap Abu Umar dan istrinya, Densus juga menangkap terduga teroris lainnya. Secara total terdapat 14 terduga teroris hidup-hidup yang diamankan dan terdapat tiga terduga lainnya yang terpaksa ditembak, karena melawan petugas.

Penangkapan 14 terduga teroris itu dilakukan sejak Senin (14/5) hingga Selasa (15/5). Penangkapan mereka adalah bagian dari penindakan setelah terjadi rentetan bom yang mengguncang Surabaya dan Sidoarjo. 

Tembak di Tempat

Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan telah meneruskan perintah untuk menembak di tempat para pelaku teror setelah mendapat instruksi langsung dari Mabes Polri.

"Sekarang ini sudah siaga satu dan perintah sudah turun. Kita sedang meningkatkan kewaspadaan dan ini demi keamanan bersama," jelas Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Dicky Sondani di Makassar, Rabu (16/5).

Ia mengatakan, perintah ditembak setelah instruksi dari Mabes Polri itu sudah diteruskan kepada seluruh jajaran, mulai tingkat Polres maupun Polsek di seluruh kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan.

Pengamanan di setiap markas polisi juga ditingkatkan lengkap dengan senjata dan akan memeriksa setiap tamu atau masyarakat yang akan berkepentingan ke markas polisi.

Dicky menyampaikan jika langkah siaga dan pemeriksaan ekstra ketat yang akan dilakukan di setiap markas polisi itu dilakukan demi keamanan bersama.

"Jadi kita sampaikan kepada masyarakat bahwa ada yang seperti ini. Kami sebelumnya memohon maaf kepada seluruh lapisan masyarakat agar dapat maklum demi keamanan kita bersama," tegasnya.

Beberapa kasus teror bom yang terjadi selama beberapa hari ini dengan menjadikan markas dan anggota polisi serta rumah ibadah lainnya sebagai sasaran membuat pihaknya meningkatkan pengamanan ekstra di semua lini.

"Kalau melihat kasus-kasus teror bom yang terjadi di beberapa daerah serta yang terbaru, tadi pagi di Riau itu, anggota dan markas polisi jadi sasaran. Makanya, ini yang kita waspadai," ujarnya. (ant/af)