Medan, (Tagar 13/5/2018) - Politisi PDI Perjuangan Maruarar Sirait menyebutkan, survey membuktikan bahwa semangat perubahan masih tinggi di Sumatera Utara (Sumut).

Hal itu ditegaskan Maruarar merujuk hasil survey Pemilihan Gubernur dan Kepuasan Terhadap Kinerja Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang digelar Indo Barometer pada 26 Mei - 2 Juni 2018 dan dirilis di Medan, Sumatera Utara, Selasa (12/6) kemarin.

"Kita melihat kontestasi Pilgub Sumut sekarang tren Djarot-Sihar itu terus meningkat. Sama halnya sewaktu Pak Jokowi dicalonkan presiden. Itu tak ujuk-ujuk naik,” ujar Ara, sapaan akrab Maruarar.

Tren itu, menurut Ara seusai acara Public Speaking, Pembekalan Door To Door Campaign untuk Pemenangan Pilgub Sumatera Utara dan Pelantikan Pengusrus DPD dan DPC Taruna Merah Putih (TMP) se-Sumatera Utara di Wisma Benteng, Kota Medan, Selasa (12/6), karena jejak rekam mereka yang bagus.

“Mereka berpengalaman di pemerintahan, tidak korupsi dan merakyat," tandas Ara.

Dia mengatakan, di Sumut peranan media dalam menyajikan informasi yang akurat dan terpercaya sangat penting. Demikian halnya dengan kegiatan relawan yang terus menyuarakan kebenaran.

Ara melihat, sejak pasangan calon Djarot Syaiful Hidayat-Sihar Sitorus (Djoss) dicalonkan PDI Perjuangan, aktivitas relawan terus meningkat di Sumut. "Peranan relawan itu sangat penting, ini terbukti ketika Pak Jokowi menang pada pilpres yang lalu," ujarnya.

Terkait permainan isu SARA dalam konstelasi politik Sumut 2018, Ara menuturkan, pihaknya melakukan pelatihan kampanye, seperti dilakukan TMP yang diikuti 33 DPC dari seluruh Sumatera Utara.

Ara bersama Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari menyampaikan materi terkait Peta Politik Sumut dan Door To Door Campaign untuk pemenangan Pilkada.

"Yang kita lakukan adalah mendidik mereka melakukan kampanye yang berkualitas, artinya profesional. Kita latih public speaking supaya bisa door to door,” jelas Maruarar.

Harus Tambah Pengamanan

Sementara itu, hasil survey Indo Barometer yang memperlihatkan perbedaan keunggulan yang sangat tipis antara Pasangan Calon Gubernur Sumut Djarot Syaiful Hidayat-Sihar Sitorus (Djoss) dan rivalnya Edy Rahmayadi-Musa Rajeckshah (Eramas) dinilai rawan konflik.

Penilaian itu disampaikan oleh Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari saat memaparkan hasil surveynya. Dia menceritakan berdasarkan pengalamannya melakukan survey di sejumlah daerah.

"Untuk itu, ini pesan paling penting agar pihak pengamanan menambah kekuatannya dua kali atau tiga kali lipat," tegas Qodari.

Adapun untuk melihat permasalahan serta konstelasi politik di Sumatera Utara, selain yang sudah dirilis Tagar News dalam berita sebelumnya, berikut ini hasil survei yang dilakukan Indo Barometer.

1.  Permasalahan terpenting di tingkat provinsi menurut publik (pertanyaan terbuka) adalah: sulitnya kondisi ekonomi rakyat (16,9%), pengangguran/sulitnya lapangan pekerjaan (23.6%), kondisi jalan rusak/buruk (15,4%), mahalnya harga sembako (5,4%), dan narkoba/miras (13,9%), dan seterusnya.

2. Permasalahan terpenting di lingkungan tempat tinggal menurut publik (pertanyaan terbuka) adalah: Pengangguran/sulitnya lapangan pekerjaan (15,1%), kondisi jalan rusak/buruk (16,1%), sulitnya kondisi ekonomi rakyat (5,8%), narkoba/miras (15,3%), dan mahalnya harga sembako (5,3%), dst.

3. Tingkat kepuasan terhadap kinerja Tengku Erry Nuradi sebagai gubernur adalah (21,5%). Sementara tingkat kepuasan terhadap Nurhajizah Marpaung sebagai wakil gubernur adalah (12,4%).  Angka tingkat kepuasan tersebut tergolong rendah karena di bawah 50%. Secara umum masyarakat yang tidak puas terhadap kinerja Tengku Erry Nuradi sebagai gubernur akan memilih pasangan Djoss.

4. Berdasarkan pertanyaan tertutup terhadap dua nama calon gubernur, Djarot Saiful Hidayat memperoleh dukungan sebesar (37,0%). Bersaing ketat dengan Edy Rahmayadi yang memperoleh dukungan (36,1%). Pemilih yang menyatakan tidak akan memilih/rahasia/belum memutuskan/tidak tahu/tidak jawab (26,9%).

5. Berdasarkan pertanyaan tertutup terhadap dua nama calon wakil gubernur, Sihar PH Sitorus memperoleh dukungan sebanyak (34 %). Selisih tipis dengan Musa Rajekshah yang memperoleh dukungan (28,5 %).  Pemilih yang menyatakan tidak akan memilih/rahasia/belum memutuskan/tidak tahu/tidak jawab (37,5 %).

6. Dari simulasi dua pasangan calon gubernur dan wakil gubernur, pasangan Djarot Saiful Hidayat-Sihar PH Sitorus memperoleh dukungan sebesar (36,9%).  Bersaing ketat dengan pasangan Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah dengan dukungan (36,9%). Tidak akan memilih/rahasia/belum memutuskan/tidak tahu/tidak jawab (25,4%).

7. Nama calon yang paling dikenal adalah Djarot Saiful Hidayat (91,4%), Edy Rahmayadi (87,9%). Sihar PH Sitorus (74,6%), Musa Rajekshah (70,5%).  Dari nama calon yang dikenal, Djarot Saiful Hidayat disukai (69,4%), Edy Rahmayadi disukai (64,6%). Sihar PH Sitorus disukai (58,5%), Musa Rajekshah disukai (51,1%).

8. Asosiasi pemilih terhadap Djarot Syaiful Hidayat diasosiasikan sebagai mantan gubernur Jakarta(29,4%), Wakil Gubernur (11,8%), Jujur /Tidak Korupsi (11,4%). Edy Rahmayadi diasosiasikan publik sebagai Jenderal Militer (34,6%), Tegas (10,7 %), Berwibawa (6,0%).

9. Asosiasi pemilih terhadap Musa Rajeckshah diasosiasikan publik Putra Daerah (9,6%), Ketua Pemuda Pancasila (9,2%), Berwibawa (7,1%). Sihar PH Sitorus diasosiasikan publik sebagai pengusaha (10,6%), Putera Daerah (10,4%), Anak DL Sitorus (10,2%).

10. Dari Aspek kepribadian calon guberur Edy Rahmayadi dipersepsikan unggul pada aspek paling mampu memimpin, berwibawa dan tegas. Sedangkan Djarot Syaiful Hidayat dipersepsikan unggul pada aspek jujur/bersih dari korupsi, pintar/intelektual, perhatian/dekat dengan rakyat dan berpengalaman. Dari aspek kepribadian calon wakil gubernur Sihar Sitorus dipersepsikan unggul dari Musa Rajeckshah pada semua aspek.

11. Dari aspek kemampuan calon gubernur, Djarot Syaiful Hidayat unggul pada kemampuan mengatasi kemiskinan, pengangguran, menyediakan sembako yang terjangkau, pendidikan terjangkau, fasilitas jalan dan jembatan dan menjaga hubungan etnis dan agama dengan baik. Edy Rahmayadi dipersepsikan unggul mengatasi masalah pendidikan, kesenjangan kaya dan miskin, masalah narkoba, terorisme dan fasilitas listrik terjangkau.

12. Dari Aspek kemampuan calon wakil gubernur Sihar PH Sitorus dipersepsikan unggul pada semua aspek. Kecuali pada aspek mengatasi masalah terorisme, Musa Rajeckshah unggul.

13. Alasan utama publik memilih calon gubernur adalah berpengalaman (19,8%), tegas (17,4%), jujur/tidak korupsi (9,2%), mampu memimpin (7,9%).

14. Alasan utama publik memilih calon wakil gubernur adalah putera daerah (16,8%), pintar/cerdas (14,0%), jujur tidak korupsi (7,2%) dan merakyat (7,0%).

15. Menonton acara debat kandidat, hanya 4,3% warga Sumatera Utara yang menonton debat kandidat pertama di Kompas TV dan TVRI. Sedankan debat kandidat kedua di Metro TV mengalami penurunan hanya 2,1%.

16. Tingkat kepuasan masyarakat Provinsi Sumatera Utara terhadap kinerja Jokowi sebagai presiden sebesar (78,8%), yang tidak puas (15,7%), tidak tahu/tidak jawab (5,5%).

17. Sebanyak (68,4%) masyarakat Provinsi Sumatera Utara menginginkan Joko Widodo (Jokowi) kembali menjadi Presiden Republik Indonesia untuk periode 2019-2024, yang tidak menginginkan kembali (16,1%), tidak tahu/tidak jawab (15,5)%.

18. Dari simulasi 20 nama calon presiden, calon yang banyak dipilih di Provinsi Sumatera Utara adalah Jokowi (53,4%), disusul Prabowo Subianto (18%), capres lainnya (<2%), sementara yang rahasia/belum memutuskan/tidak tahu/tidak jawab sebesar (25,1%).

19. Jika simulasi head to head Jokowi vs Prabowo maka Jokowi (56,6%-61,6 %), Prabowo (21,1%), Anies Baswedan (5,8%), Gatot Nurmantyo (5,5%), dan Agus Harimurti Yudhoyono (4,2%).

20. Dari simulasi terhadap 26 nama calon wakil presiden, tingkat keterpilihan Anies Baswedan di Provinsi Sumatera Utara (7,4%), Gatot Nurmantyo (7,4%), Tito Karnavian (4,5%), Agus Harimurti Yudhoyono (3,9%) dan Susi Pudjiastuti (3,1%). Nama calon lainnya (<3%).

Berdasarkan temuan di atas, konstelasi pilgub di Sumatera Utara masih sangat ketat dan dinamis.

Dalam situasi seperti itu biasanya pertarungan politik di lapangan menjadi keras dan tajam.  Untuk itu perlu upaya menahan diri dan manajemen konflik yang baik dari para calon, tim sukses, parpol pendukung, penyelenggara pemilu, tokoh masyarakat, dan para pemilih itu sendiri. (wes)