Banda Aceh, (Tagar 24/3/2019) - Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (kadisbudpar) Aceh, Jamaluddin mengatakan dalam lima tahun terakhir sejak tahun 2014 hingga 2018 jumlah kunjungan wisatawan ke Aceh terus mengalami peningkatan.

Pada 2018 total kunjungan wisatawan ke Aceh mencapai 2,5 juta orang. Jumlah itu meningkat dibandingkan 2017, tercatat sebanyak 2,3 juta orang.

"Jumlah kunjungan wisatawan ke Aceh meningkat, mencapai 2,5 juta orang, terdiri 2,4 juta wisnus dan 106 ribu wisman pada 2018. Sementara pada 2017, sebanyak 2,3 juta orang, terdiri dari 2,2 juta wisnus dan 78 ribu wisman," sebut Jamal saat dikonfirmasi di Banda Aceh, Sabtu (23/3).

Angka ini menurut Kadisbudpar Aceh diprediksi akan terus meningkat dan ditargetkan angka kunjungan wisnus di Aceh sebanyak tiga juta jiwa dan wisman 150 ribu orang pada 2019.

Sementara, angka kunjungan wisatawan muslim ke Aceh diharapkan juga meningkat, dari 35 ribu pada 2018 menjadi 40 ribu pada 2019.

"Disbudpar Aceh ikut serta pada setiap pameran pariwisata yang diadakan di dalam maupun luar negeri. Hal ini kita lakukan untuk mempromosikan destinasi wisata Aceh, baik alam, budaya, kuliner, tsunami, maupun sejarah, sehingga angka kunjungan wisatawan terus meningkat," kata Jamal.

Sementara Kepala Bidang Pemasaran Disbudpar Aceh, Rahmadhani menambahkan, Pemerintah Aceh terus mengembangkan target pasar wisatawan. Beberapa hal dilakukan seperti meningkatkan pasar promosi di Timur Tengah, Thailand, dan Singapura.

"Wisatawan Nusantara dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, dari 2017 hingga 2018 tumbuh sebesar 5 persen dari tahun sebelumnya. Pun wisatawan mancanegara, tumbuh sebesar 35 persen dari tahun sebelumnya. Dengan pasar utama yang disasar yaitu wisatawan dari Malaysia, Australia, Tiongkok, Philipina, India, dan negara timur tengah," sebut Dhani.

Guna meningkatkan angka kunjungan wisatawan ke Aceh, ada empat cluster wisata yang dibagi, yaitu cluster wisata bahari dan budaya cluster wisata Adventure, agro, dan olahraga cluster wisata bahari dan ekologi dan terakhir cluster wisata religi dan heritage.

Dari empat cluster tersebut, kata Dhani ada beberapa keunggulan yang telah mendunia, seperti di wilayah dataran tinggi Gayo, memiliki keunggulan Tari Saman yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh UNESCO pada 2011.

Kemudian Kopi Gayo, yang telah diakui kualitasnya oleh International Fair Trade, pada 2010. Dan Gunung Lauser, yang telah ditetapkan sebagai warisan Hutan hujan tropis Sumatera oleh UNESCO pada 2004.  

"Juga ada kegiatan mendunia di Kabupaten Simeulue, International Surfing pada tahun 2018, yang digelar resmi oleh World Surf League (WSL) dan Asian Surfing Championship (ASC). []

Baca juga: