Simalungun, (Tagar 3/7/2018) – Air mata tumpah. Lima anggota keluarga korban jatuh pingsan saat mengikuti kebaktian dan doa bersama di tepi Pelabuhan Tigaras, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Selasa (3/7).

Doa bersama dilakukan bagi para korban kecelakaan KM Sinar Bangun yang tenggelam di perairan Danau Toba. Sampai saat ini bangkai kapal belum ditemukan dengan dugaan puluhan korban terjebak di dalamnya.

Anggota keluarga yang pingsan dibawa ke posko kesehatan. Mereka diberi perawatan, bantuan oksigen, dan dibimbing untuk bernapas secara normal. Setelah sadar dan mulai normal, mereka bergabung lagi dengan keluarga meneruskan kebaktian.

“Keluarga yang pingsan karena tidak bisa menguasai emosinya, masih mengalami keterkejutan,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Simalungun, Jan Mauresdo Purba.
Bisa juga karena mereka belum mengkonsumsi makanan sehingga lemah dan berdampak pada kesehatan tubuh. "Kegiatan ini sarat dengan emosi, perlu stamina yang kuat," ujar Jan Mauresdo Purba.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Simalungun menggagas doa bersama dan tabur bunga bagi keluarga korban kapal yang tenggelam di perairan Danau Toba.

Monumen Peringatan

Monumen juga dibangun Pemkab Simalungun untuk mengenang peristiwa itu dan sekaligus sebagai pengingat untuk mengedepankan keselamatan. Pembangunan monumen ditandai dengan peletakan batu pertama di lokasi yang hanya berjarak sekitar 20 meter dari pelabuhan Tigaras, Selasa (3/7).

Peletakan batu pertama pembangunan monumen dilakukan Bupati Simalungun JR Saragih, Direktur Operasi Basarnas Brigjen TNI (Mar) Bambang Suryo, dan Pimpinan Persulukan Naghsabandiyah Tuan Guru Muda Sakban Rajagukguk. Sejumlah perwakilan keluarga korban juga ikut melakukan peletakan batu pertama sambil menyampaikan doa.

Bupati Simalungun JR Saragih mengatakan, monumen yang dibangun berupa miniatur KM Sinar Bangun dengan panjang tujuh meter dan lebar tiga meter. Monumen dibangun sebagai media untuk mengenang seratusan korban yang masih tenggelam di dasar Danau Toba.

Selain itu, keberadaan monumen tersebut agar para keluarga dan anak-anak korban dapat mengenang dan mengetahui tenggelam orangtuanya.

"Bupati boleh berganti, Presiden juga berganti, tetapi monumen ini akan abadi," tandas JR Saragih.

Monumen juga dibangun sebagai wadah pembelajaran bagi semua pemangku kepentingan dalam bidang transportasi agar selalu meningkatkan kehati-hatian. "Pastinya, termasuk pemerintah untuk lebih berhati-hati," ujar JR Saragih seperti dikutip Antara, Selasa (3/7).

Di monumen tersebut, nantinya dicantumkan nama 164 penumpang KM Sinar Bangun yang masih tenggelam sesuai nama-nama yang didaftarkan di posko pencarian.

Setelah peletakan batu pertama dilakukan, Bupati mempersilakan keluarga korban untuk meletakkan atau menanam benda di fondasi monumen sebagai kenangan bagi korban.

Dia mencontohkan baju atau kenangan lain yang berkaitan dengan korban. "Setelah itu akan ditimbun, selanjutnya disemen," ujar Bupati dihadapan ratusan keluarga korban.

Sebelumnya, KM Sinar Bangun yang mengangkut seratusan penumpang dilaporkan tenggelam di perairan Danau Toba, antara Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir dan Desa Tigaras, Kecamatan Dolok Pardamean, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Senin (18/6), sekitar pukul 17.30 WIB.

Jasa Raharja menyatakan menjamin seluruh korban tenggelamnya KM Sinar Bangun. Sebanyak 18 penumpang dilaporkan selamat, tiga meninggal, dan 164 belum ditemukan.

Nakhoda atau juru mudi beserta dua awak kapal juga selamat pada peristiwa itu dan menjadi tersangka atas penyebab musibah tersebut. (yps)