Jakarta, (Tagar 23/6/2018) - Oman Rochman alias Abu Sulaiman bin Ade Sudarma alias Aman Abdurrahman bersujud saat majelis hakim menyatakan vonis mati untuknya. Ia melambaikan tangan ketika  mejelis hakim bertanya apakah dirinya akan mengajukan banding.

Pemimpin Jamaah Ansharut Daulah (JAD) kroni organisasi teroris ISIS ini berpesan pada pengacaranya agar vonisnya segera diurus. 

"Beliau (Aman) sempat menyampaikan, kalau sudah vonis, tolong diurus secepatnya, eksekusinya mau pindah (rutan) atau bagaimana yang jelas cepat," kata Asludin Hatjani, pengacara Aman, usai sidang di PN Jakarta Selatan, Jumat (22/6).

Pakar terorisme dari Universitas Indonesia (UI) Ali Abdullah Wibisono menilai sikap Aman yang terkesan santai menerima hukuman mati adalah cermin seorang teroris sejati.

"Memang dia seorang teroris sejati, artinya dia itu tidak punya tujuan pribadi. Tujuan dia itu ya melakukan pergerakan di luar dirinya, membangun negara Islam di luar dirinya," ujarnya saat dihubungi Tagar News, Jumat (22/6).

Ia mengatakan, bukan bersedih, teroris justru memandang vonis mati adalah berkah. Sebab selama ini logika terorisme menurutnya, memang mencari mati di medan tempur.

"Kalau seorang teroris mendapat vonis, itu seperti mendapat berkah, tidak membuat dia gentar," kata Ali.

"Terorisme itu logikanya adalah menciptakan satu medan tempur di wilayah yang sebenarnya damai. Kalau di luar sana, memang medan tempur. Kalau di Indonesia ini dibikin-dibikin, seolah-oleh ada perang lewat vonis mati dan sebagainya," lanjutnya.

Ali menyebut Aman seorang ideolog murni, pelopor lahirnya kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Indonesia.

"Bukan lagi pelaku yang mencari tujuan duniawi. Tujuan dia sudah di luar dirinya," katanya.

Karya Propaganda

Ia menjelaskan, sebelum menjadi ideolog seperti sekarang, Aman awalnya seorang pendakwah seputar isu tauhid dan jihad, dalam kelompok Tauhid Wal Jihad pada 2004.

Aman kemudian diketahui mengagumi tokoh ideologi jihad pendukung Al Qaidah, Abu Muhammad al-Maqdisi. Ia aktif menerjemahkan buku atau tulisan karya Abu Muhammad al-Maqdisi, kemudian ia edarkan di kalangan militan secara luas.

Hasilnya, pria kelahiran 5 Januari 1972 itu mendapat banyak panggilan dakwah ke berbagai tempat. Tanpa ragu, Aman pun menjadikan keolompok Tauhid Wal Jihad sebagai kelompok formal yang melakukan propaganda dengan memproduksi naskah terjemahan yang diedarkan lewat fotokopi atau situs internet millahibrahim.com.

Buku Seri Materi Tauhid Aman terbagi menjadi beberapa bagian pokok. Pertama, prinsip ketauhidan melalui pemaknaan Thaghut dan bagaimana kewajiban Muslim untuk beriman kepada Allah dan kufur terhadap thaghut.

Ali yang juga Dosen Fakultas Hubungan Internasional di UI ini mengatakan, karya propaganda Aman itu mudah sekali diunduh publik. Biarpun nantinya datang hari eksekusi mati, ideologinya akan tetap bisa dibaca publik maupun simpatisan Aman.

"Aman Abdurrahman itu karyanya sudah ada. Jadi kalaupun orangnya sudah tidak ada, karyanya tetap dibaca. Saya lihat tidak ada upaya untuk membantah karyanya itu. Karya Aman Abdurhaman tentang Tauhid dan Thaghut beredar luas, mudah sekali diunduh. Tidak ada diskusi publik untuk membantah karya itu," paparnya.

Sehingga, lanjutnya, adalah tugas penting pemerintah, akademisi yang mengkaji terorisme, maupun pengamat teroris, menjelaskan kepada masyarakat mengenai ajaran Islam yang sebenarnya di Indonesia.

Masyarakat yang memahami Islam sesungguhnya, lanjut Ali, akan bersikap kritis ketika membaca karya Aman.

"Bahwa itu bukan sesuatu yang pas di Indonesia. Tidak seperti itu Islam diintrepretasikan di Indonesia. Islam diintrepertasikan sesuai konteks di mana ia diterapkan," ujarnya.

Balas Dendam Skala Kecil

Ali menduga, sangat mungkin vonis mati Aman akan membuat kelompok-kelompok lokal yang berkiblat pada terorisme melakukan upaya balas dendam, hanya saja skalanya kecil. Karena mereka telah kehilangan pemimpin yang mengkoordinir serangan.

"Pasti ada upaya balas dendam, hanya kedepan akan lebih lemah skalanya, tapi saya kira masih ada, ya akan terjadi," ucap Ali.

"Teroris berkurang karena ideolognya sudah tidak ada lagi. Jadi paling kalaupun akan terjadi serangan, saya perkirakan serangannya akan lebih bersifat sporadis dan amatir, akan lebih tercerai-berai," lanjutnya.

Walaupun demikian, kata Ali, pemerintah Indonesia dan seluruh perangkat keamanan tidak perlu khawatir. Apalagi dengan sikap santai Aman. Justru, pemerintah harus sesegera mungkin mengambil sikap, mengumumkan dengan jelas, bahwa seorang ideolog terorisme internasional dihukum mati.

"Pemerintah tidak usah terlalu khawatir, kok Oman ini terlihat santai, tidak gentar. Perlu dijelaskan bahwa Indonesia memvonis ideolog terorisme internasional dan perlu dilakukan sesegera mungkin. Jadi kita tidak usah merasa kok kayaknya vonis mati ini tidak menjadi solusi," tegasnya. (nhn)