Lombok Timur, (Tagar 7/10/2018) - Sudah lama hasil peladang kopi di Desa Beririjarak, Lombok Timur dikenal dengan cita rasanya yang nikmat.

Seolah-olah tak ingin kalah menjadi salah satu dari desa penghasil kopi terbaik, sekelompok pemuda peduli lingkungan yang menamakan diri Gerakan Pemuda untuk Perubahan atau disingkat Gapura mengembangkan hasil para peladang kopi di Kabupaten Lombok Timur, tepatnya di Desa Beririjarak, Kecamatan Wanasaba.

Kelompok pemuda tersebut mengembangkan produk lokal peladang yang ada di desa mereka, Kopi Rau merupakan brand asli dari Desa Beririjarak.

Rau dalam bahasa setempat berarti ladang. Disebut demikian karena semua biji kopi yang diolah berasal dari ladang warga yang ada di Desa Beririjarak.

Kopi yang diolah ada dan dikemas dalam beberapa ukuran kemasan ada dua jenis, yaitu Arabika dan Robusta. Akan tetapi yang lebih banyak diolah adalah jenis kopi robusta karena jenis kopi ini paling banyak ditanam di daerah ini. Perkara rasanya, tentu tak mau kalah dengan daerah lain yang menghasilkan virietas kopi yang sama.

Pengolahan kopi di Desa Beririjarak oleh warga masih menggunakan metode lama alias digoreng sangrai menggunakan wajan tanah liat dan berbahan api dari kayu hutan lindung Gawar Gong yang berada di bawah kaki Gunung Rinjani.

Namun demikian, sedikit disayangkan dari proses cara pemetikan kopi oleh warga dilakukan secara tidak teratur alias dipetik perut. Cara itu sedikit tidaknya turut mempengaruhi cita rasa kopi yang dihasilkan berkurang kenikmatannya walaupun hanya sedikit.

Karenanya, sejak satu tahun terakhir ini, sekelompok pemuda setempat mulai mengolah proses kopi jadi yang lebih baik. Mulai dari teknik pemetikan hingga cara penjemurannya berusaha dijaga agar kopi yang dihasilkan tetap terjaga cita rasanya.

Saat musim panen, kopi yang dipetik hanya bijih yang bewarna merah cerry dan ketika pemisahan biji kopi dengan kulit menggunakan beberapa proses seperti honey proses, wash dan wine process.

Kopi Rau LombokHasil olahan Kopi Rau di Desa Beririjarak, Kecamatan Wanasaba, Kabupaten Lombok Timur, NTB. (Foto: Tagar/Harianto Nukman)

"Biji-biji kopi yang sudah kering kemudian disangrai menggunakan alat sangrai elektrik mini yang disebut mini roaster coffee," tutur Sopian, anggota Gapura Desa Beririjarak.

Biji kopi yang sudah disangrai kemudian digiling menjadi bubuk dan dikemas menarik menggunakan kemasan yang terbuat dari plastik aluminium untuk menjaga keamanan dan cita rasa kopi yang diolah.

Tumbuhan di sekitar pohon kopi akan mempengaruhi rasa dari kopi tersebut, misal jika di dekat kopi itu banyak rempah-rempah, maka rasa kopi juga akan ada pengaruh rasa rempahnya.

"Pohon penaung yang bagus itu pohon gamal agar tumbuhan kopi tidak cepat mati ketika baru ditanam. Pohon penaung banyak ada di lahan perkebunan warga di sini," cetus Saelul, anggota Pokdarwis Desa Beririjarak.

Pengolahan Kopi Rau sifatnya masih bertaraf industri rumahan. Pemasarannya pun belum terlalu dikenal luas, hanya mengandalkan informasi lisan dari sesama kelompok pemuda yang aktif di jaringan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan aktivis lingkungan. Selain itu penjualannya juga lewat media sosial.

Hasil penjualan Kopi Rau lebih banyak diarahkan untuk menyokong aktivitas sosial pemuda seperti kegiatan edukasi kesadaran lingkungan warga, pendidikan bahasa Inggris dan taman baca bagi anak usia dini dan remaja di desa itu.

Terdapat sekitar lebih dari 15 hektar lahan warga di desa ini yang masih mempertahankan ladang dan kebun miliknya ditumbuhi kopi sejak puluhan tahun silam. Tanaman kopi tersebut dikelola tumpang sari dengan jenis tanaman lainnya. []