Jakarta, (Tagar 13/6/2018) – Kepergian KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya ke Israel menjadi kontroversi. 

Ia Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), juga Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).

Dilansir dari Antara, Yahya Staquf diundang sebagai pembicara di Israel oleh Israel Council on Foreign Relations (ICFR), sebuah forum independen yang mempelajari dan membahas kebijakan luar negeri, terutama yang berkaitan dengan Israel dan bangsa Yahudi. ICFR beroperasi dengan bantuan WJC (Kongres Yahudi Dunia).

Dalam salinan surat undangan, Yahya diminta menyampaikan kuliah umum berjudul Shifting Geopolitical Calculus: From Conflict to Cooperation.

Acara itu digelar Rabu (13/6) pukul 06.00 waktu setempat di The David Amar Worldwide North Africa Jewish Heritage Center, Yerusalem.

Sebelumnya, Yahya memenuhi undangan Israel menjadi pembicara dalam acara AJC (American Jewish Comittee) Global Forum di Yerusalem, Israel, Minggu (10/6).

Berbagai pihak, termasuk Palestina menyatakan kecewa dan telah mengirimkan semacam surat protes kepada Kementerian Luar Negeri Indonesia.

PBNU: Tak Ada Kerja Sama NU-Israel

Ketua PBNU Robikin Emhas menegaskan bahwa tidak ada kerja sama antara NU dengan Israel.

"Sekali lagi kami tegaskan tidak ada jalinan kerja sama program maupun kelembagaan antara NU dengan Israel," kata Robikin dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu (9/6).

Menurut Robikin, kehadiran Yahya ke Israel adalah selaku pribadi, bukan dalam kapasitas sebagai Katib Aam PBNU, apalagi mewakili PBNU.

"Saya yakin kehadiran Gus Yahya tersebut untuk memberi dukungan dan menegaskan kepada dunia, khususnya Israel, bahwa Palestina adalah negara merdeka. Bukan sebaliknya," katanya.

Robikin mengatakan setiap insan yang mencintai perdamaian mendambakan penyelesaian menyeluruh dan tuntas atas konflik Israel-Palestina.

Namun demikian, lanjut dia, konflik Israel-Palestina tidak disebabkan oleh faktor tunggal sehingga diperlukan semacam gagasan out of the book atau tidak biasa yang memberi harapan perdamaian bagi seluruh pihak secara adil.

"Boleh jadi Gus Yahya Staquf memenuhi undangan dimaksud untuk menawarkan gagasan yang memberi harapan bagi terwujudnya perdamaian di Palestina dan dunia pada umumnya," kata Robikin.

Presiden: Urusan Pribadi

Presiden RI Joko Widodo menegaskan bahwa kepergian anggota Wantimpres Yahya C Staquf ke Israel merupakan urusan pribadi.

"Itu adalah urusan pribadi. Beliau menyampaikan urusan pribadi karena beliau diundang sebagi pembicara di Israel," kata Presiden pada konferensi pers di Istana Bogor, Selasa (12/6).

Kepala Negara juga mengungkapkan bahwa kepergian Yahya Staquf ke Israel tersebut tetap memberikan dukungan penuh kepada kemerdekaan Palestina.

"Saya juga belum mendapatkan laporan, beliau belum pulang. Intinya (di Israel) juga berikan dukungan pada Palestina," katanya.

MUI: Tangggung Jawab Pribadi

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma'ruf Amin mengatakan keberangkatan Yahya Cholil Staquf ke Israel merupakan tanggung jawab pribadi dan tidak terkait dengan MUI serta NU.

"Keberangkatan Yahya Staquf tidak ada kaitannya dengan MUI dan juga NU. Kami tidak mendukung. Kalau ditanya alasannya, silakan tanya kepada yang bersangkutan mengapa melakukan hal itu (berangkat ke Israel)," ujar Ma'ruf dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa.

Dia menegaskan, MUI konsisten membela Palestina. Sama halnya dengan sikap pemerintah dan juga negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).

Ma'ruf juga menegaskan bahwa MUI mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota dari Palestina.

"Itu inisiatif sendiri, tanggung jawab sendiri. Seberapa jauh pengaruhnya terhadap upaya Kementerian Luar Negeri (Kemenlu). Apakah memperlancar upaya Kemenlu dalam mengupayakan perdamaian dengan tetap agar menjaga agar Palestina menjadi negara yang merdeka dan berdaulat atau justru mengganggu nanti akan dilihat," kata Ma'ruf.

Ia menekankan bahwa seharusnya upaya diplomasi tidak dilakukan oleh perorangan, namun oleh Kemenlu. MUI sendiri tidak punya hak untuk menindak.

"Nanti akan dilihat, seberapa mengganggunya keberangkatan Yahya ini. MUI tidak punya hak untuk menindak, kami serahkan sepenuhnya pada NU," cetus dia.

PKS Menyesalkan

Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS) DPR RI Jazuli Juwaini menyesalkan kunjungan anggota Wantimpres Yahya Cholil Staquf ke Israel tersebut.

Dalam siaran pers, Jazuli mengatakan bahwa hal ini membuktikan Yahya tidak sensitif terhadap perjuangan rakyat Palestina yang totalitas didukung oleh Pemerintah dan rakyat Indonesia sebagai amanat UUD NKRI 1945.

"Saya sungguh menyesalkan penerimaan undangan itu atas dalih apa pun. Apalagi, dilakukan oleh pejabat sekelas Wantimpres. Sungguh sikap pribadi yang tidak sensitif atas totalitas dukungan pemerintah dan rakyat Indonesia atas perjuangan Palestina," tegas Jazuli.

Pemerintah RI, lanjut anggota Komisi I DPR RI itu, secara tegas tidak membuka sedikit pun ruang diplomasi untuk Israel karena dianggap negara agresor yang terbukti menjajah dan melakukan pembantaian terhadap rakyat Palestina selama puluhan tahun. Israel juga mengabaikan puluhan resolusi PBB.

"Lalu, bagaimana mungkin seorang yang melekat padanya jabatan sebagai penasihat Presiden dengan iktikad baik memenuhi undangan lembaga yang jelas didanai Israel untuk tujuan diplomasi negara penjajah ini?" tanya Jazuli geram.

Ketua Fraksi PKS ini makin menyesalkan sikap Yahya Cholil Staquf karena dilakukan di tengah kecaman dunia atas pembantaian Israel yang menewaskan lebih dari 60 demonstran Palestina dan melukai 900 orang lainnya hanya dalam sehari menjelang pembukaan Kedubes Amerika di Yerussalem beberapa waktu lalu.

"Atas tindakan brutal Israel itu, puluhan negara mengecam keras. Bahkan, tokoh pemimpin dan selebritis dunia turut melakulan aksi boikot terhadap semua 'event' dan produk Israel. Ini seorang tokoh dan pejabat publik negara yang selama ini terdepan dalam menyuarakan solidaritas kemanusiaan atas Palestina justru menyambut undangan Israel," kata Jazuli.

Jazuli mengatakan bahwa insiden ini harus menjadi yang terakhir dan jangan terulang kembali segala tindakan yang memberi ruang bagi mulusnya diplomasi Israel untuk melanggengkan penjajahan Palestina.

"Jangan kita tertipu dengan niat busuk mereka untuk menjustifikasi sikap agresor mereka," ujarnya.

DPR: Blunder

Ketua Komisi I DPR RI Abdul Kharis Almasyhari menilai kunjungan Yahya Cholil Staquf ke Israel menghadiri undangan konferensi hubungan Yahudi-Amerika membuat blunder diplomasi politik internasional.

"Saya menyayangkan kunjungan Yahya Cholil Staquf ke Israel, dengan alasan menghadiri undangan konferensi hubungan Yahudi-Amerika di Yerusalem Palestina," kata Abdul Kharis Almasyhari melalui pernyataan tertulis di Jakarta, Rabu (13/6).

Menurut dia, kunjungan Yahya Staquf tersebut dapat merusak jalan diplomasi Palestina yang telah ditempuh Indonesia sejak lama.

Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini menjelaskan, Indonesia baru saja mendapat kepercayaan dipilih menjadi salah satu anggota tidak tetap di Dewan Keamanan (DK) PBB dan belum sempat bekerja.

"Kunjungan Yahya Staquf ke Israel membuat Indonesia menjadi malu pada negara-negara yang memilih Indonesia," katanya.

Abdul Kharis berharap Presiden Joko Widodo dapat memberikan sikap tegas kepada Yahya Staquf yang dinilai telah menyakiti Palestina dan negara-negara Islam.

Anggota DPR RI dari daerah pemilihan Jawa Tengah V ini menegaskan, posisi Yahya Staquf sebagai anggota Wantimpres, tidak bisa begitu saja mengatasnamakan pribadi pada kunjungan tersebut.

Kunjungan Yahya Staquf ini, kata dia, membuat blunder diplomasi politik internasional yang kuat dan telah dibangun dalam membela kemerdekaan Palestina.

"Istana harus memberikan penjelasan, bagaimana posisi Presiden terhadap langkah Yahya Staquf," katanya.

Abdul Kharis juga mengingatkan, hubungan diplomatik Indonesia dengan Palestina yang kuat selama ini, telah dilanjutkan dengan baik oleh pemerintahan Presiden Joko Widodo.

"Hal ini terlihat melalui langkah-langkah politik luar negeri melalui kebijakan Kementerian Luar Negeri yang merupakan mitra kerja Komisi I DPR RI," katanya.

Kharis menegaskan, pada rapat-rapat kerja antara Komisi I DPR RI dan Menteri Luar Negeri, sering dibahas perihal hubungan diplomik Indonesia dan Palestina yang kuat.

Kepercayaan besar Palestina kepada Indonesia, katanya, menjadi kunci Indonesia dipercaya oleh negara-negara muslim, sehingga Indonesia memegang posisi penting lobi di dunia internasional.

"Jangan sampai kepercayaan itu hilang karena nila setitik. Siapa pun dan atas nama apa pun, seharusnya dapat menempatkan diri di mana dan kapan harus mengambil tindakan yang tepat terkait Palestina," katanya.

Apalagi Palestina situasinya sedang memanas setelah tewasnya ratusan warga dan ribuan yang terluka di Gaza, kata Kharis.

Pengamat: Lukai Palestina

Pengamat masalah Timur Tengah dari Universitas Indonesia (UI) Doktor Yon Machmudi mengatakan kunjungan Yahya Cholil Staquf ke Israel jelas melukai perasaan warga Palestina yang sedang berduka.

Di Jakarta, Rabu (13/6), Yon yang juga Ketua Program Studi Kajian Timur Tengah dan Islam UI itu mengatakan bahwa Yahya Staquf seharusnya membatalkan kunjungan itu demi menghormati kebijakan pemerintah dan dukungan rakyat Indonesia terhadap Palestina.

"Sikap Indonesia yang menolak kedaulatan negara Israel tidak berubah dan sebagai warga negara seyogianya memperkuat sikap itu. Dengan kunjungan itu, Israel akan mendapatkan manfaat jauh lebih besar dan dapat diklaim sebagai keberhasilan diplomasi negara tersebut," kata Yon.

Ia mengatakan bahwa kunjungan Yahya kontraproduktif terhadap kebjakan pemerintah Indonesia dalam menyikapi isu Palestina.

"Sikap tegas RI yang menunda visa rombongan Israel beberapa hari sebelumnya karena keprihatinan pemerintah terhadap banyaknya korban tewas dari warga sipil Palestina akan dimentahkan oleh kunjungan itu. Apalagi, beliau itu kan membawa nama kepresidenan," ujarnya.

Menag: Pendekatan Beda, Tujuan Sama

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin meminta semua pihak untuk berhenti mencerca kepergian Yahya Cholil Staquf. 

Melalui akun Twitter pribadinya, Rabu (13/6) Lukman menulis:

"Mari kita akhiri saling cerca terkait ikhtiar Kiai Yahya Cholil Staquf. Boleh jadi sebagian kita tak bersetuju dengan cara pendekatannya. Namun tujuan kita sama, ingin wujudkan damai di Palestina. Ia telah menyampaikan 'rahmah' kepada semua mereka. Itu pesan utama agama." (af)