Jakarta, (Tagar 11/5/2018) - Usia 92 tahun tak menghalangi Mahatir Mohamad untuk memimpin koalisi oposisi Malaysia Pakatan Harapan dan menangkan Pemilihan Umum Malaysia.

Artinya, ia telah mengalahkan Najib Razak, yang berada pada koalisi Barisan Nasional, dengan partai kunci UMNO yang telah mendominasi perpolitikan Malaysia, sejak merdeka pada 1957.

Kemenangan Mahatir yang merupakan partai oposisi dinilai Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah merupakan cambuk bagi koalisi pemerintah Indonesia untuk lebih peka dengan perasaan dan aspirasi rakyat.

“Kemenangan Mahathir dan kawan-kawan peringatan keras bagi pemerintah di Indonesia, agar berhati-hati membaca perasaan dan aspirasi masyarakat,” ungkap Fahri di Jakarta, Senin (11/5).

“Kalau tidak gejala tumbangnya pemerintahan sudah tampak di depan mata. Jadi waspadalah,” tegasnya.

Terlebih, menurutnya, kini telah bermunculan pihak yang menyerukan untuk mengganti presiden di tahun 2019. Artinya, ada suara-suara dari sekelompok rakyat, yang memang ingin pemimpin baru yang mengerti perasaan rakyat tanpa harus diminta.

“Maka dari itu, akan datang suatu kelompok dan generasi yang mengerti apa yang sedang terjadi dan bagaimana kita melihat masa depan kita secara lebih baik dan optimis. Sepertinya, kekuasaan yang ada sekarang ini dan koalisi pemerintah yang ada sekarang ini akan berakhir. Cukup sampai di sini,” terang Fahri.

Dalam Pemilihan Umum Malaysia, Mahatir memenangkan 115 kursi di parlemen, melebihi ambang batas 112 kursi. Ia merupakan Perdana Menteri ketujuh Malaysia, dengan usia tertua bukan hanya di Malaysia bahkan di dunia.

Mahatir yang sebelumnya pernah berkuasa selama 22 tahun, dan kemudian mundur pada tahun 2003, pun mengungkapkan bahwa kemengannya bukan merupakan balas dendam koalisi oposisi.

“Kami tak akan balas dendam, yang kami inginkan adalah memulihkan supremasi hukum,” ucap Mahatir seperti dikutip BBC News, Kamis (10/5). (nhn)