Jakarta, (Tagar 13/6/2018) - Wakil Sekjen Partai Gerindra, Mohammad Nuruzzaman, mengundurkan diri dari partainya karena cuitan Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon. Nuruzzaman menganggap Fadli telah menghina Katib Aam (Sekjen) PBNU Yahya Colil Staquf terkait kunjungan ke Israel.

Kepada Tagar News, Nuruzzaman yang juga Ketua Densus 99 Banser NU, mengaku sebenarnya sudah lama ingin mundur dari Gerindra. Menurutnya, selama ini Gerindra melakukan politik yang tidak santun dan itu membuatnya gerah. Akhirnya cuitan Fadli menjadi jalan bagi Nuruzzaman keluar dari Gerindra.

Selain karena cuitan Fadli, Nuruzzaman mengatakan alasan lainnya dia mengundurkan diri karena selama ini kader Gerindra menari-nari di atas isu Suku, Agama, dan Ras (SARA) untuk kepentingan kekuasaan.

"Itu bertentangan dan jauh dari hati nurani saya," ucap Nuruzzaman kepada Tagar News, Selasa (12/6) malam. 

Nuruzzaman mengundurkan diri melalui surat terbuka yang disampaikan ke Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.

Dalam suratnya, Nuruzzaman mengatakan saat ini Gerindra lebih menjadi corong kebencian yang mengamplifikasi kepentingan politis busuk yang hanya berkutat pada kepentingan saja.

"Makin parah lagi, pengurus Gerindra makin liar ikut menari pada isu SARA di kampanye Pilkada DKI di mana saya merasa sangat berat untuk melangkah berjuang karena isi perjuangan Gerindra hanya untuk kepentingan elitnya saja sambil terus menerus menyerang penguasa dengan tanpa data yang akurat," kata Nuruzzman dalam suratnya tersebut.

Nuruzzman mengatakan sejak Desember 2017 sudah berniat mudur, tinggal mencari momen yang tepat. 

"Hari ini, 12 Juni 2018, saya marah. Kemarahan saya memuncak karena hinaan saudara Fadli Zon kepada kiai saya, KH Yahya Cholil Staquf terkait acara di Israel yang diramaikan dan dibelokkan menjadi hal politis terkait isu ganti Presiden," tulis Nuruzzman.

"Akhir kata, saya Mohammad Nuruzzaman, kader Gerindra hari ini mundur dari Partai Gerindra dan saya pastikan, saya akan berjuang untuk melawan Gerindra dan elit busuknya sampai kapan pun," tulisnya dalam surat penutupnya.

Menanggapi pengunduran diri Nuruzzaman, anggota Dewan pembina Partai Gerindra Habiburokhman menyebut fenomena adanya kader yang berhenti berjuang atau bahkan keluar dan mundur dari gerakan perjuangan seperti Gerindra adalah hal yang wajar.

Menurut Habiburokhman, tuduhan terhadap Fadli yang dianggap berkomentar politis soal Yahya Staquf tidak tepat. 

"Pak Yahya ini diprotes bukan hanya oleh Bang Fadli, tetapi juga banyak tokoh dari partai lain. Bahkan MUI dan PBNU menyatakan kehadiran Pak Yahya di sana tidak ada hubungannya dengan organisasi," kata Habiburokhman dalam keterangan tertulisnya, Rabu (13/6). (nhn)