Jakarta, (Tagar 16/7/2018) - Presiden Joko Widodo menyebut nama Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar merupakan salah satu dari lima nama bakal cawapres memiliki makna politis tersendiri.

Pengamat politik dari Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi Indonesia (Sigma), Said Salahudin, mengatakan hal itu melalui telepon genggamnya di Jakarta, Senin (16/7).

"Penyebutan nama Cak Imin (Muhaimin) oleh Presiden Joko Widodo menjadikan Cak Imin spesial," kata Said Salahudin mengutip Antara.

Menurut Said, PKB yang didukung kaum nahdliyin memiliki basis dukungan masyarakat yang besar. Dia mencontohkan, pada pilkada Jawa Tengah dan pilkada Jawa Timur, suara PKB menunjukkan tren meningkat. Di pilkada Jawa Tengah, PKB bersama Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengusung pasangan Sudirman Said dan Ida Fauziyah, meskipun tidak menang tapi suara PKB meningkat. 

"Pada pilkada Jawa Tengah, pasangan Sudirman Said dan Ida Fauziyah meraih suara 41 persen atau sekitar 3 juta," katanya.

Kemudian pada pilkada Jawa Timur PDI Perjuangan bersama PKB mengusung pasangan Saifullah Yusuf dan Puti Guntur Soekarno. Pasangan Ipul-Puti, menurut dia, meskipun tidak menang tapi memperoleh suara 46 persen atau sekitar lima juta. 

"Penyebutan nama Cak Imin oleh Pak Jokowi, jadi memiliki makna tersendiri," katanya.

Menurut Said, nama Muhaimin disebut langsung oleh Joko Widodo sebagai salah satu bakal cawapres dari nama-nama bakal cawapres yang sudah mengerucut menjadi lima nama, menunjukkan Muhaimin diperhitungkan. 

"Apalagi, dari lima nama itu ada juga tokoh dari luar parpol," katanya.

Said menambahkan, penyebutan nama Muhaimin sebagai salah satu cawapres merupakan keberhasilan strategi PKB dalam mempengaruhi Joko Widodo. Di antara strategi itu, kata dia, sejak jauh-jauh hari Muhaimin dan elit PKB gencar melempar jargon: 

"PKB akan mendukung Jokowi jika Muhaimin yang menjadi cawapres, meluncurkan JOIN (Jokowi-Cak Imin), Cinta (Cak Imin untuk Indonesia), Jokowi akan terancam kalah dan lain lain."

Menurut dia, strategi PKB itu terbukti efektif sebab jika syarat itu tidak dipenuhi, maka ada kemungkinan PKB akan mendukung capres yang lain, sehingga tidak diharapkan Jokowi.

Said menjelaskan, strategi politik PKB yang langsung berkomunikasi dengan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono, Ketua umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, dan ketua umum partai politik lainnya, untuk menjajaki kemungkinan poros ketiga. 

"Strategi PKB cukup berhasil, meskipun Jokowi belum tentu memilih Muhaimin," katanya.

Keistimewaan

Said menyebutkan keistimewaan yang diberikan Joko Widodo kepada Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Muhaimin Iskandar akan memunculkan kecemburuan bagi parpol pendukung yang lain.

"Keistimewaan yang diberikan Jokowi kepada PKB itu boleh jadi diam-diam memunculkan kecemburuan bagi parpol pendukung yang lain," kata Said.

Said menilai penyebutan nama Muhaimin Iskandar atau Cak Imin oleh Jokowi sebagai salah satu dari lima kandidat calon Wakil Presiden (cawapres) pendampingnya menempatkan PKB sebagai parpol paling spesial di antara parpol pendukung Jokowi yang lain.

"Walaupun belum benar-benar pasti ditunjuk sebagai cawapres, tetapi penyebutan nama Muhaimin secara langsung oleh Jokowi tentu punya makna politis tersendiri," ucapnya.

Lantaran baru Cak Imin satu-satunya orang yang disebut namanya secara langsung oleh Jokowi, maka hanya dia-lah yang sementara ini bisa disebut sebagai cawapres resmi Jokowi.

"Sebab empat yang lain kan masih rahasia. Belum disebutkan namanya oleh Presiden Jokowi," ujar Direktur SIGMA ini.

Jadi, lanjut dia, PKB boleh saja berbangga. Walaupun masih bersifat sementara, tetapi status Cak Imin sebagai cawapres itu menjadi anugerah bagi PKB yang tidak didapatkan oleh parpol pendukung Jokowi lainnya.

Apalagi, kata dia, Jokowi mengatakan daftar cawapresnya sekarang ini sudah mengerucut menjadi lima nama. Itu artinya, selain Muhaimin, tersisa empat nama lagi. Di antara yang empat itu disebut-sebut ada juga nama tokoh dari luar parpol.

"Ini menandakan peluang yang dimiliki oleh Partai Golkar, PPP, NasDem, Hanura, dan parpol yang lain untuk menempatkan kadernya sebagai pendamping Jokowi menjadi semakin sempit oleh karena sudah ada nama Muhaimin dan nama tokoh lain dari unsur non-parpol dalam daftar yang lima itu," tutur Said Salahudin.

Sebelumnya Presiden RI Joko Widodo menyebut Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar atau Cak Imin termasuk dalam pilihan sebagai calon wakil presiden.

"Saya harus ngomong apa adanya, salah satu nama itu adalah Pak Muhaimin Iskandar," kata Presiden seusai meninjau arena olahraga dayung bersama Cak Imin, di Jakabaring Sport City, Sabtu (14/7).

Presiden menjelaskan bahwa dirinya masih menimbang salah satu dari lima tokoh yang akan mendampinginya sebagai wakil presiden pada Pilpres 2019. 

Mampu Counter Serangan 

Pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Lili Romli berpendapat Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar alias Cak Imin mampu meng-counter serangan terhadap Joko Widodo.

"Merangkul Cak Imin, kekuatan dukungan Jokowi akan semakin kuat dan besar," kata Lili di Jakarta, Minggu menanggapi pernyataan Presiden Jokowi yang menyebutkan Cak Imin sebagai salah satu kandidat cawapresnya pada Pilpres 2019.

Menurut dia, Cak Imin memiliki basis massa Nahdlatul Ulama (NU) yang besar, dan jika meninggalkan Jokowi akan kehilangan dukungan dari umat Islam.

"Jika tak rangkul akan kehilangan basis dukungan dari umat Islam. NU kan basis yang besar di banding kekuatan-kekuatan Islam yang lain," ujarnya.

Lili melihat langkah Jokowi mamasukkan nama Cak Imin ke kantongnya merupakan sesuatu yang wajar dan logis, karena Cak Imin adalah pemimpin partai berbasis Islam pertama yang terus mendukung Jokowi sejak Pilpres 2014 lalu.

"Jadi logis Pak Jokowi memasukkan Cak Imin ke kantongnya. Bahkan, kalau meninggalkan itu sesuatu yang tidak logis," ucapnya.

Dia mengatakan, Cak Imin memang telah berjuang mati-matian mendukung Jokowi sejak awal, sehingga Cak Imin pun mampu memberikan 'counter' terhadap serangan sebagian umat Islam kepada Jokowi.

"Dia (Cak Imin) juga akan menjembatani dan mengahapus image negatif bahwa Pak Jokowi anti Islam itu. Karena selama ini dianggap bahwa Pak Jokowi itu tidak dekat dengan Islam, anti-Islam," kata Lili.

Sebelumnya Presiden RI Joko Widodo menyebut Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar atau Cak Imin termasuk dalam pilihan sebagai calon wakil presiden.

"Saya harus ngomong apa adanya, salah satu nama itu adalah Pak Muhaimin Iskandar," kata Presiden seusai meninjau arena olahraga dayung bersama Cak Imin, di Jakabaring Sport City, Sabtu (14/7).

Presiden menjelaskan bahwa dirinya masih menimbang salah satu dari lima tokoh yang akan mendampinginya sebagai wakil presiden pada Pilpres 2019. (af)