Jakarta, (Tagar 6/7/2018) - Tragedi tenggelamnya kapal KM Sinar Bangun di Danau Toba yang terjadi pada 18 Juni 2018 sontak menghebohkan. Sebanyak 164 korban disebutkan hilang dalam tragedi tersebut, yang hingga kini belum dapat dievakuasi.

Tim Basarnas dengan berbagai cara melakukan pencarian terhadap korban, baik dengan alat Remote Observasi Vehicle (ROV) sampai dengan menggunakan peralatan milik TNI AL, Multibeam Side Scan Sonar. Kendati demikian, jasad korban yang hilang belum terindentifikasi juga.

Kepala Basarnas M Syaugi menyatakan, pencarian korban dengan titik kordinat yang diduga tempat tenggelamnya kapal KM Sinar Bangun ternyata melebihi batas jarak yang diperkirakan.

Dengan peralatan milik angkatan laut pun, kata dia, alat tersebut juga belum mampu mendeteksi lokasi yang diduga menjadi tempat tenggelamnya kapal KM Sinar Bangun. “Hal itu dikarenakan alat tersebut mempunyai jangkauan hingga 600 meter,” kata M Syaugi dalam keterangan konfrensi pers pada 22 Juni 2018.

Maka dari itu jika dilihat dari maksimal jangkauan alat tersebut, itu berarti kedalaman Danau Toba melebihi dari 600 meter. Sehingga baik korban maupun bangkai kapal tidak bisa ditemukan. Namun yang pasti masyarakat luas pasti mempertanyakan seberapa besar kedalaman Danau Toba itu.

Laman Wikipedia mencatat, kedalaman Danau Toba itu sedalam 505 meter saja atau 1.666 kaki. Akan tetapi sebuah misteri Danau Toba terkuak dalam operasi pencarian dan penyelamatan korban tenggelamnya KM Sinar Bangun. Misteri ini tak sengaja terjawab saat tim SAR Gabungan dari Polisi Perairan Polda Sumatera Utara melakukan penyisiran danau itu untuk mencari bangkai KM Sinar Bangun.

Dari GPS yang terpasang di boat yang dipakai Tim Gabungan dalam pencarian bangkai kapal, terungkap ternyata kedalaman Danau itu lebih dari satu setengah kilometer atau 1.600 meter. Kedalaman 1.600 meter dasar Danau Toba ini ditemukan Polair saat mengikuti rute pelayaran KM Sinar Bangun dari Pelabuhan Simanindo menuju Pelabuhan Tigaras.

"Apabila kita melihat kedalaman danau ini, mungkin akan kami tunjukkan dalam GPS yang ada di boat kami ini, kita bisa melihat bahwa kedalaman danau sekitar seribu enam ratus enam meter," kata anggota Polair yang merekam operasi ini dalam video SAR tragedi Danau Toba.

Dengan terungkapnya kedalaman dasar Danau Toba itu, maka bisa dikatakan itulah salah satu penyebab kenapa begitu sulitnya petugas menemukan bangkai kapal itu.

"Bayangkan begitu dalamnya danau ini sehingga menyulitkan petugas untuk menemukan di mana sebenarnya bangkai kapal yang tenggelam di danau ini," kata petugas Polair itu.

Mengapung Dalam Ruangan

Sementara melihat kesulitan petugas dalam melakukan pencarian korban dalam tragedi kapal KM Sinar Bangun tersebut, ahli forensik  Djaja Surya Atmadja mengungkapkan, korban yang dinyatakan hilang dalam tragedi itu diduga terjebak di dalam kapal KM Sinar Bangun.

"Korban itu kan ada di dalam kapal. Kalau ada di dalam kapal berarti dia di dalam ruangan. Kalau di dalam ruangan itu kan gak mungkin keluar. Berarti dia (korban) terjebak di dalam kapal itu," kata Djaja Surya Atmadja saat dihubungi Tagar, Kamis (5/7).

Saat Tagar mencoba menanyakan mengapa jasad korban yang dinyatakan hilang tidak mengapung ke permukaan Danau Toba, menurut dia, para korban itu sudah mengapung di dalam ruangan kapal tersebut.

"Sekarang bayangkan kalau di rumah, orang di dalam kamar pintu tertutup atau pintu terbuka, kalau mengambang itu dia pasti ngambangnya dalam kamar. Bagaimana bisa naik ke permukaan danau?” tukasnya.

“Gak mungkin, yang bisa ngambang itu saat kejadian dia (korban) lompat ke danau dia ngambang lah. Orang yang meninggal itu ada di dalam ruangan kapal, sehingga dia itu mengapung dan bisa busuk. Tapi dia (korban) mengapungnya di dalam ruangan kapal itu, gak bakal ke luar pintu. Dia itu terjebak dalam kapal itu," ujar dia.

Pasca Tragedi Kapal KM Sinar Bangun, dia memastikan kapal tersebut masih utuh.

"Kapalnya (KM Sinar Bangun) itu utuh kapalnya kan dari besi. Gak bakal hancur dengan cepat, lamalah. Orang yang kapal-kapalnya tenggelam ratusan tahun aja masih ada kok. Pokoknya kalau kapalnya ketemu dibawa ke atas, dalam kapal itu isinya orang semua itu. Mereka (korban) ada dalam ruangan masing-masing di kapal itu," tuturnya.

Dia menjelaskan, untuk mengangkat kapal KM Sinar Bangun, membutuhkan teknologi yang sangat canggih dan pastinya biaya yang harus dikeluarkan pun terlalu besar.

"Jangankan di Indonesia, di Amerika pun kalau sudah di atas kedalaman itu gak bakal diangkat. Itu ongkos anggarannya jauh mahal, gak ada gunanya. Kalau ketemu pun dia (korban) dikubur juga. Anggap aja udah dikubur di laut. Gak worthed (layak) untuk diangkat karena biayanya besar. Mendingan uangnya itu dipakai buat rakyat yang lain yang masih hidup," ujar dia.

"Amerika sekalipun kalau kejadiannya sama kayak gitu, dia juga gak akan ngangkat (kapal). Itu karena itu tidak worthed untuk diangkat, biayanya terlalu besar dan teknologinya terlalu canggih. Kalau teknologi Indonesia gak bisa. Kalau mau pakai teknologi luar negeri itu bisa triliunan itu biayanya terlalu mahal," paparnya.

Tidak Tembus Sinar

Berbeda dengan Peneliti danau Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Hadiid Agita Rustini mengatakan, jasad korban KM Sinar Bangun tidak mengambang di permukaan air disebabkan karena kedalaman jatuhnya kapal mencapai sekitar 400 meter di perairan Danau Toba.

Menurut dia, jika dilihat dari kedalam jatuhnya kapal, itu artinya tidak dapat tembus sinar matahari, sehingga menyebabkan suhu air dingin.

"Suhu air di tempat jatuhnya KM Sinar Bangun itu sekitar 20 derajat celcius. Kalau sudah berada di dasar dan berhari-hari, apalagi tidak terdekomposisi, mengingat kondisi oksigen di kedalaman tersebut sudah 0, maka tidak ada bakteri aerob yang membantu dekomposisi atau penguraian. Sehingga, kakunya jenazah itu proses alami, sepeti jenazah pada umumnya," kata Agita.

Menurut dia jika arus perairan Danau Toba di bawah 100 meter, arus sudah dalam kondisi tenang. Namun apabila arus air berada di atas 100 meter, kata dia, arus itu akan telihat cukup besar karena dipengaruhi oleh morfologi danau dan faktor-faktor lain.

Agita juga mengatakan, kontur dasar Danau Toba tempat jatuhnya KM Sinar Bangun tergolong stabil, meski kontur dasar di sekitarnya sangatlah curam.

"Bisa kita lihat dari sekeliling danau, danau ini dikelilingi oleh dataran curam. Jadi ya kurang lebih dasar Danau Toba. Tapi kapal itu jatuh sudah sampai ke bagian yang relatif datar. Kapal stabil berada di situ, dia gak akan pindah-pindah lagi, maksudnya kondisinya tenang," jelasnya.

Lanjut dia menambahkan, KM Sinar Bangun sempat terbawa arus sampai di kedalaman 60 meter. Meskipun arusnya hanya bergerak dengan kecepatan 2 cm perdetik, massa air bisa mencapai dengan jumlah hingga megaton. Sehingga, berdampak pada bergeraknya obyek yang terbawa arus.

"Dia (KM Sinar Bangun) jatuhnya pun enggak terlalu dekat dengan posisi saat dia terbalik pertama kali, kayaknya lebih dari 1 km dari posisi perahu terbalik," ucap dia.

Hal itu, kata dia, bisa terjadi karena adanya perbedaan arus baik di permukaan dan di kedalaman. Menurutnya, gelombang air di permukaan dengan arus air di kedalaman mulai dua hingga tiga meter sudah berbeda.

"Ketika angin tinggi, gelombang tinggi dan bagian atas kapal tertiup angin, sedangkan di bagian bawah kapal terbawa oleh arus, sehingga kapal akan sangat mudah terbalik kemudian airnya masuk ke relung kapal, dan akhirnya kapal di bawah pengaruh arus," tuturnya.

Akhir Tragedi

Sebagai informasi, pencarian korban kecelakaan KM Sinar Bangun di Danau Toba, resmi dihentikan Selasa (3/7/2018). Pihak otoritas mengatakan hal ini disepakati setelah diskusi yang "intens" dengan keluarga korban.

Akhir dari upaya pencarian diiringi dengan doa, tabur bunga di Danau Toba dan upacara peletakan batu pertama untuk pembangunan monumen korban KM Sinar Bangun.

Kepala SAR Medan sekaligus Koordinator Tim Pencarian KM Sinar Bangun, Budiawan, menjelaskan alasannya. Penghentian pencarian diawali perundingan antara pihak pemerintah dan keluarga korban pada hari ke-13 pencarian atau Sabtu (30/6).

KM Sinar Bangun, kapal feri yang membawa penumpang lima kali lebih banyak dari jumlah seharusnya berikut puluhan sepeda motor, tenggelam. Jumlah resmi yang disampaikan oleh otoritas pada Selasa adalah 21 korban selamat termasuk kapten kapal, tiga korban tewas yang ditemukan, dan 164 dinyatakan hilang.

"Di hari ke-13, kita coba berunding sama Bupati (Simalungun) dan keluarga korban. Kalau mau mengambil ya kita siapkan dana besar, peralatan yang canggih dan perlu waktu yang lama," kata Budiawan.

"Pada hari ke-14, faktor kesulitan itu semua sudah tahu ya. Ini kita maknai dulu deh, apakah kita akan berlarut-larut dengan mencari alat ke luar negeri dan ke mana-mana?" ujar Budiawan. (ron)