Beijing, (Tagar 22/9/2018) – Jack Ma, pendiri perusahaan raksasa di bidang perdagangan elektronik asal China Alibaba, membantah isu mengenai pemindahan aset senilai 120 miliar RMB (Rp 259,8 triliun) ke luar negeri.

"Kami butuh belajar agar bisa bertahan di samudera isu, meskipun gerakan renang kami masih kacau. Sungguh melelahkan setiap hari berurusan dengan isu yang kadang-kadang penjelasan hanyalah memperburuk keadaan," kata Jack Ma dalam Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Tianjin, Jumat (21/9).

Mantan guru bahasa Inggris yang namanya masuk dalam jajaran orang terkaya di dunia setelah memelopori bisnis "e-commerce" itu baru saja mengumumkan pengunduran dirinya sebagai CEO Alibaba mulai tahun depan.

Ma mengaku keputusannya mengundurkan diri dari "gurita raksasa" China itu telah dibuat sejak tiga tahun yang lalu.

Pria bernama asli Ma Yun itu mengaku sebagai orang yang beruntung bisa memimpin Alibaba sampai meraih kesuksesan hingga hari ini.

"Keberuntungan itu tidak akan selamanya dan jalan terbaik adalah melanjutkan torehan Anda kepada orang lain agar memiliki kesempatan, meskipun kecil. Memberikan anak muda kesempatan sama halnya memberikan diri Anda memiliki banyak kesempatan," tutur Ma sebagaiamana dilansir Sina Weibo.

Ma mengungkapkan, cita-citanya pada masa mendatang hanya untuk pendidikan, pelestarian lingkungan dan kewirausahaan.

Tepat pada hari ulang tahunnya yang ke-54 dan peringatan Hari Guru di China pada 10 September 2018, Ma mengumumkan pengunduran dirinya sekaligus menunjuk juniornya, Daniel Zhang, sebagai CEO Alibaba mulai tahun depan.

Keputusan pria yang pernah ditunjuk sebagai penasihat Presiden Joko Widodo di bidang "e-commerce" itu mengundang berbagai tanggapan, baik di daratan Tiongkok maupun di belahan dunia lainnya.

Perang Dagang

Sebelumnya, Jack Ma meramalkan konflik dagang Amerika Serikat dengan China mungkin saja berlangsung selama dua puluh tahun dan akan membuat semua pihak berantakan karena aturan dagang yang lemah.

Ma saat itu berbicara di konferensi investor setelah Washington menyatakan akan mengenakan bea terhadap tambahan 200 juta dolar impor China, seperti diberitakan Reuters, Rabu.

Ma berpendapat tekanan ini akan berdampak negatif terhadap perusahaan China maupun asing. Salah satu usaha China untuk mengatasi tekanan ini, menurut dia, adalah dengan memindahkan produksi ke negara lain.

“Kalian mungkin menang perang, tapi, kalah di pertempuran. Jangka menengah, banyak bisnis China yang akan pindah ke negara lain,” kata Ma.

“Bahkan jika Donald Trump pensiun, akan ada presiden baru, masih akan berlanjut. Kita butuh aturan dagang yang baru, kita butuh meningkatkan WTO,” kata Ma, merujuk pada World Trade Organization.

Jack Ma pernah bertemu Presiden Trump tahun lalu dan berencana membuka sejuta lapangan pekerjaan di AS karena pedagang kecil dapat menjual barang di platform Alibaba.

Hubungan dagang kedua negara meregang sejak AS meningkatkan tarif untuk produk-produk asal China. []