Jakarta, (Tagar 31/5/2018) - Meski sempat terpuruk, namun rupiah kembali berjaya dan bahkan menjadi mata uang terbaik di kawasan Asia dan Amerika Latin. 

Mengutip CNBC Indonesia, nilai tukar rupiah nampaknya memang dalam fase kejayaan terhadap mata uang global, termasuk negara-negara besar yang tergabung dalam G-20. Kenaikan suku bunga acuan yang dilakukan Bank Indonesia (BI) ampuh untuk mengangkat posisi rupiah.

Pantauan CNBC Indonesia, pada Kamis (31/5) pukul 15.10 Wib, rupiah bergerak menguat terhadap seluruh mata uang negara G-20 mulai dari kawasan Asia hingga Amerika Latin. Berikut data pergerakannya seperti yang dikutip dari Reuters:

Rupiah TerbaikSumber: CNBC Indonesia

Keputusan BI dalam menaikkan suku bunga acuan sepertinya tepat. Tidak hanya membawa rupiah bergerak stabil di hadapan dolar Amerika Serikat (AS), tetapi juga membawa mata uang Tanah Air berjaya di hadapan seluruh negara G20.

Kemarin, BI memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan BI-7 Day Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin ke posisi 4,75%. Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan kebijakan ini bersifat pre-emtif, front loading, dan ahead of the curve sehingga mampu melindungi pasar keuangan Indonesia.

Dengan menaikkan suku bunga acuan, pelaku pasar menilai kali ini BI sudah ahead the curve karena mengantisipasi pertemuan The Fed dengan baik. Pada pertemuan The Fed 13 Juni mendatang, pelaku pasar memperkirakan ada kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 1,75-2%. Kemungkinannya adalah 91,3% alias sangat hampir pasti.

Kenaikan BI 7 day reverse repo rate diputuskan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) tambahan yang di luar jadwal. Jika BI harus menunggu sampai RDG terjadwal, maka bisa jadi sangat terlambat karena baru dilakukan pada 27-28 Juni. Ada jeda dua minggu, dan tentunya BI akan behind the curve.

Apresiasi investor ini membuat dana asing masuk ke Indonesia karena menawarkan bunga yang bersaing. Dampaknya, rupiah pun terapresiasi. (Fet)