Jakarta, (Tagar 23/2/2019) - Nusantara Satu merupakan satelit broadband pertama yang diorbitkan Indonesia, merupakan ide inovatif dari dua orang ahli satelit yakni Adi Rahman Adiwoso dan Iskandar Alisjahbana.

Satelit Nusantara Satu merupakan satelit ke-10 yang dioperasionalkan oleh PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN), setelah satelit Palapa B1 milik pemerintah telah habis masa aktif. Kemudian kini satelit Nusantara Satu yang dipelopori ide sederhana dari dua orang inovatif ahli satelit, Adi Rahman Adiwasono dan Iskandar Alisjahbana.

Ide tersebut merupakan bagian dari wujud kemadirian satelit nasional yang memungkinkan seluruh masyarakat Indonesia lebih mudah mengakses internet tanpa tergantung kepada operator satelit asing.

Hal ini sajalan dengan tujuan utama PSN adalah untuk menghadirkan teknologi satelit yang mampu memberikan layanan terbaik dan memenuhi kebutuhan pelanggan yang dinamis sampai ke pelosok Indonesia.

Berawal dari ide sederhana, satelit ini dirangkai dengan unik, roket pendorong atau Engine Section Stage 1 yang digunakan adalah div roket "bekas" alias "reused" yang ke-4 setelah sebelumnya sudah tiga kali digunakan saat peluncuran satelit lain. Hal itu dipertimbangkan akan mengurangi biaya dari total biaya yang akan dikeluarkan.

Untuk pemasangan satelit ke badan roket secara keseluruhan memakan waktu 30 hari, dan setelah diluncurkan akan ditempatkan pada slot orbit 146 BT, tepat di atas Papua, Indonesia dengan ketinggian kurang lebih 70.000 km, dan akan dikendalikan melalui Satellite Control Center yang dioperasikan oleh PT PSN Enam Indonesia yang merupakan anak usaha PT PSN di wilayah Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat.

Proyek Satelit Nusantara Satu memang tidak main-main. Ditaksir nilai proyek ini hingga 230 juta dollar AS atau sekitar Rp 3,3 triliun. Pembiayaan pun didukung oleh Export Development Canada (EDC) dan dimulai Desember 2017 lalu.

Momen peluncuran satelit broadband pertama ini sangat erat kaitannya dengan tantangan zaman yang serba membutuhkan internet cepat, yang berimbas pada perkembangan di segala bidang dan akan membutuhkan keterlibatan Information Technology (IT) didalamnya.

Satelit yang dirancang tim PSN dengan tim System Space Loral (SSL) ini menggunakan platform SSL-1300 140 dengan usia ekonomis selama 15 tahun, memiliki 38 transponder C/Ext-C Band dan 8 spotbeam Ku-Band dengan total kapasitas hingga 15 Gigabits per second (Gbps), berat pada saat peluncuran sebesar 4.735 Kg, serta memiliki Spacecraft Power (EOL) sebesar 9985 watt. Selain itu, cakupan C/Ext-C Band Satelit Nusantara Satu meliputi wilayah Asia Tenggara dan untuk Ku-Band meliputi seluruh wilayah Indonesia yang terdiri dari 8 Spot Beam pada sistem HTS.

Dengan teknologi High Throughput Satellite (HTS), memberikan layanan internet broadband dengan kapasitas jauh lebih besar dibandingkan dengan satelit konvensional yang saat ini ada di Indonesia.

"Satelit Nusantara Satu mendapat fokus lebih besar pada Indonesia bagian Timur, sebagai komitmen yang sejalan dengan pemerintah untuk lebih fokus dan mengedepankan percepatan pembangunan di Indonesia timur yang dinilai berpotensi besar, namun sedikit tertinggal dibandingkan pulau-pulau bagian barat Indonesia," ungkap Space System Group Head PSN, Indri Prijatmodjo.

Berikut ini profil dua ilmuwan di balik terciptanya satelit Nusantara Satu.

Ir Adi Rahman Adiwoso M Sc

Nusantara SatuIr. Adi Rahman Adiwoso M.Sc. (Foto: Pasifik Satelit Nusantara)

Salah satu dari sedikit tokoh dalam industri satelit Indonesia, Ir Adi Rahman Adiwoso M Sc, selain insinyur, ia juga seorang entrepreneur yang pantang menyerah.

Dikenal sebagai penemu sistem telekomunikasi, pria kelahiran 26 juli 1953, Yogyakarta. Perjalanan Adi dalam industri satelit dimulai saat ia mengenyam pendidikan tinggi bachelor of science di Universitas Purdue, Amerika Serikat (AS) pada 1974. Ketika itu, pria kelahiran Yogyakarta ini hijrah ke Negeri Paman Sam mengikuti pekerjaan sang ayah.

Setelah bekerja selama 8 tahun di luar negeri, pria yang kerap disapa Adi, kembali ke tanah kelahirannya di Yogyakarta. Telah memiliki bekal keahlian, ia mencoba menciptakan teknologi yang belum pernah ada di pasaran dunia, teknologi yang memungkinkan komunikasi handphone dapat melakukan komunikasi tanpa gangguan sinyal.

Kemudian juga mendirikan sebuah perusahaan yang sangat diakui oleh dunia. Perusahaan yang bernama PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) bersama dengan mantan Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof Dr Ing Iskandar Alisjahbana tahun 1991.

Prof Dr Ing Iskandar Alisjahbana

Iskandar AlisjahbanaProf Dr Ing Iskandar Alisjahbana. (Foto: Pasifik Satelit Nusantara)

Putra sulung Prof Dr Mr Sutan Takdir Alisjahbana lahir di Jakarta, 20 Oktober 1931. Dia adalah guru besar Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB).

Memiliki sifat yang egaliter dan berintegritas tinggi, membuat dirinya mampu menggagas tele blackboard sebuah teknologi yang bisa merekam tulisan tangan di atas papan elektronik, yang bisa dikirim ke lokasi yang jauh menggunakan gelombang radio atau televisi, sebuah teknologi yang bermanfaat bagi dunia pendidikan dan telekomunikasi.

Tidak heran jika dia dikenal dengan sebutan Bapak Sistem Komunikasi Satelit Palapa. Sebelumnya dia meraih gelar Sarjana Muda Teknik Elektro FT ITB Bandung pada tahun 1954, gelar Dipl Ing dari Sekolah Tinggi Teknik Muenchen Jerman Barat pada tahun 1956 dan gelar Doktor pada 1960 dari Sekolah Tinggi Teknik Darmstadt Jerman Barat.

Pada tahun 1961-1963 Iskandar menjabat sebagai Sekretaris Departemen Teknik Elektro ITB. Selanjutnya pada tahun 1966-1968 ia menjabat sebagai Ketua Departemen Teknik Elektro ITB dan kemudian menjabat Dekan Fakultas Teknologi Industri ITB (1972-1974) dan Wakil Ketua Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (1974- 1976).

Dan pada tahun 1991, sebelum dia meninggal pada tahun 2008, Isknadar bersama temannya Adi Rahman Adiwaso mendirikan PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN). []

Baca juga: