Jakarta, (Tagar 22/6/2018) - Pengamat intelijen dan terorisme dari Universitas Indonesia (UI) Ridlwan Habib menilai pimpinan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Aman Abdurrahman akan semakin dihormati dan bertambah kuat di antara jaringan teroris usai dijatuhi vonis mati.

“Orang yang dihukum mati akan mendapatkan kehormatan. Jadi bonus ini membuat derajat Aman di antara anggotanya meningkat drastis dan tambah hebat dimata anggotanya,” ujar Ridlwan saat dihubungi Tagar, Jumat (22/6).

Ia mengingatkan, meski sudah dijatuhi vonis mati bukan menjamin jaringan teroris semakin berkurang di Indonesia. Menurutnya, polri justru perlu mewaspadai aksi balas dendam dari jaringan JAD dan simpatisannya yang berada di Indonesia.

“Ini harus diantisipasi karena setelah vonis tidak langsung dieksekusi karena biasanya ada jeda satu dua tahun. Orang bisa belajar soal ISIS bisa di mana saja, artinya kemungkinkan serangan balasan itu bisa terjadi di mana saja. Bisa di Jakarta dan di luar Jawa," kata Ridlwan.

Aman dianggap masih memiliki waktu melakukan konsolidasi sebelum dieksekusi mati. Terlebih lagi, kata dia, masyarakat dapat dengan mudah mencari informasi tentang ISIS melaui internet dan sosial media.

"Karena ada jeda waktu itu, Aman masih bisa mencari kader penggantinya untuk jaringan ISIS di Indonesia," jelasnya.

Sebelumnya, Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan menjatuhkan vonis mati kepada Oman Rochman alias Abu Sulaiman bin Ade Sudarma alias Aman Abdurrahman terkait kasus bom Thamrin di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat (22/6).

Ketua Majelis Hakim, Akhmad Jaini, menyatakan terdakwa Aman Abdurrahman terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana terorisme.

"Menjatuhkan pidana kepada terdakwa dengan pidana mati," ujar Hakim Ketua saat membaca putusan di PN Jaksel.

Menurut majelis hakim, Aman terlibat dalam kasus bom Thamrin, kasus bom Gereja Oikumene di Samarinda, kasus bom Kampung Melayu, kasus penyerangan di Bima, NTB dan kasus penyerangan Mapolda Sumut. Ia dituduh berperan sebagai dalang di balik teror tersebut.

Oman seharusnya bebas dari penjara pada 17 Agustus 2017 usai menjalani masa hukuman sembilan tahun atas keterlibatannya dalam pelatihan militer kelompok Jamaah Islamiyah (JI) di pegunungan Jalinto, Kabupaten Aceh Besar pada 2010.
(rmt)