Jakarta, (Tagar 28/11/2018) - Tak banyak yang kenal desa ini walau mungkin banyak orang yang kerap melewatinya. Desa ini terletak di perbukitan, di pinggir jalan utama dan hanya berjarak 150 meter dari gerbang masuk Kota Parapat, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Dari desa ini, terlihat hamparan indahnya Danau Toba sejauh mata memandang. 

Desa ini sedang menggeliat seiring dengan keinginan pemerintah menjadikan Danau Toba sebagai salah satu destinasi wisata prioritas di Indonesia. 

Beberapa bulan lalu, masyarakat di sana bertekad menjadikan desa mereka sebagai desa wisata. Ide ini lantas disambut antusias oleh Corry Panjaitan, pembina Sanggar Seni Dolok Sipiak yang selama ini sudah turun gunung dari Jakarta ke Parapat.

Corry lalu mendampingi masyarakat Tigarihit mulai menyusun rencana mengubah Desa Tigarihit menjadi desa wisata. Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) pun ikut terlibat. Selain itu Corry juga menggandeng Toni Sianipar, pakar periklanan yang juga musisi dari Jakarta.

Desa TigarihitDesa Tigarihit saat proses awal pengecatan dilihat dari jalan raya Parapat. (Foto: Toni Sianipar)

Menurut Toni Sianipar, keinginan masyarakat Tigarihit ini merupakan akumulasi dari kegelisahan selama ini melihat perkembangan wisata di Parapat yang tidak menunjukkan gairah.

"Di desa ini bermukim masyarakat lokal, pegawai hotel, pengusaha penyewa sepeda air, agen kapal wisata dan penyewaan berbagai fasilitas rekreasi. Mereka masyarakat yang sudah hidup dalam pusaran naik-turunnya pariwisata Parapat, lahir batin," ujar Toni kepada Tagar News, Rabu (28/11).

Ia menambahkan, masyarakat Tigarihit terinspirasi dengan Kampung Warna-Warni di Malang, Jawa Timur, yang sudah mendunia. Namun, mereka tak mau persis sama dan membuat ide lain yang berbeda. 

Desa TigarihitToni Sianipar (kedua dari kiri), Corry Panjaitan ( keempat dari kiri), bersama para pemuda Desa Tigarihit di awal gerakan membangun Tigarihit menjadi desa wisata yang lebih berwarna dan berbunga. (Foto: Toni Sianipar)

Para pendamping masyarakat seperti Toni dan Corry pun menawarkan konsep dengan warna yang lebih soft atau lembut dan penambahan konsep bunga. Toni bahkan mengajak Icoek Haryono, pakar periklanan dari Ponorogo untuk membantu menajamkan konsep. Toni dan Icoek turun langsung ke Desa Tigarihit. 

"Saya dan Mas Icoek (Mas Ucok, nama barunya), turun ke Tigarihit. Kami ajak mereka berdiskusi sambil memberi wawasan. Dari diskusi itu hasilnya adalah pilihan warna-warna pastel yang tidak menyolok, tapi ditata harmonis dengan selingan bunga aneka warna," ucap Toni yang juga dikenal sebagai personil grup vokal Elfa's Singers ini.

"Kami hanya menemani dari jauh, membantu memilihkan warna dan memberi motivasi dan referensi dari berbagai tempat di dunia. Terlebih mengajak mereka untuk terus teguh dalam tekadnya. Sisanya adalah usaha mereka," tambah Toni yang juga Wakil Rektor Universitas Darma Persada Jakarta ini.

Tahap awal, sudah dilakukan pengecatan beberapa rumah dan penanaman bunga pada 18 Oktober 2018 lalu. Selanjutnya secara bertahap akan dilakukan pengerjaan penanaman bunga, pengecatan dinding rumah dan pagar, sebagian lukisan mural, kebersihan lingkungan, pamasangan lampu hias dari atas Hotel Parapat view ke bawah depan Toba Hotel, dan juga pembenahan jalan dan parit. Juga akan disiapkan homestay dan beberapa fasilitas lainnya.

Selain menjadikan desa yang lebih berwarna dan berbunga, Toni mengatakan, dengan kontur tanahnya yang berbukit, Tigarihit juga akan dijadikan semacam tempat re-enactment (rekonstruksi) peristiwa Paskah.

Desa TigarihitDesa Tigarihit sebelum proses pengecatan dilihat dari Jalan Raya Siantar-Parapat (Foto: Toni Sianipar)

"Bukan dijadikan desa wisata iman tapi hanya tempat merekonstruksi peristiwa Paskah dan hanya berupa event ketika Paskah nantinya," kata Toni. 

Ia berharap usaha masyarakat Tigarihit berhasil dan bisa menambah atraksi dan pilihan baru di Parapat dan Danau Toba.

"Dengan bangga mereka mengatakan: Tigarihit akan menjadi Desa Warna-Warni Berbunga. Apakah mereka akan berhasil mencuri perhatian? Mereka masih membutuhkan dukungan dalam bentuk pemikiran, kunjungan dan support moral, juga materi. Dan kami selalu katakan, jangan berharap hasil yang instant. Kerjakan terus dan hargailah proses," tutup Toni. []