Jakarta, (Tagar 19/2/2019)- Kehadiran industri 4.0 mampu memberikan nilai tambah, dengan merubah cara kerja, proses manufaktur, keterampilan sumber daya manusia yang dibutuhkan, maupun cara konsumsi.

Selain membawa perubahan paradigma, industri 4.0 hadir membawa peningkatan yang efisien di nilai proses industri.

"Pada prinsipnya, memasuki era revolusi industri keempat, perubahan yang dibawa adalah peningkatan efisiensi yang setinggi-tingginya di tiap tahapan rantai nilai proses industri," ujar Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto ketika menjadi narasumber pada diskusi Forum Merdeka Barat 9 di Jakarta, Senin (16/4/2018).

Dalam kesempatan itu, Airlangga menjelaskan perbedaan industri sebelumnya dengan industri 4.0 adalah faktor penggeraknya. Industri 3.0 digerakkan oleh keuntungan, sementara industri 4.0 ini digerakkan oleh harga dan biaya.

"Bedanya Industri 3.0 dengan 4.0 adalah value chain-nya. Banyak produk-produk yang dari cost itu tentunya berujung pada value added dan supply chain," terangnya.

Disamping itu, hasil studi yang dilakukan oleh Boston Consulting Group terhadap industri yang ada di Jerman, yakni bahwa permintaan tenaga kerja akan meningkat secara signifikan pada segmen R&D dan pengembangan software hingga 96 persen.

Diproyeksikan akan muncul profesi industrial data scientist, pekerjaan baru terkait dengan pengembangan internet of things, antara lain professional triber, cloud architect, industrial network engineer, machine learning scientist, platform developer, virtual reality design, remote health care, robotics specialist, dan cyber security analyst.

Menurut Airlangga, ditingkatkan dengan cara memperkuat peran perguruan tinggi, karena dari sana diharapkan tercipta inovasi yang mendorong efektivitas industri.

"Faktor inovasi menjadi penting dalam rangka memaksimalkan nilai tambah pada setiap tahapan rantai industri. Ini ditingkatkan dengan cara memperkuat peran perguruan tinggi," tuturnya.

Hal itu diungkapkannya karena dalam setiap tahapan revolusi masih menyisahkan tantangan masing-masing dan dampak yang berbeda.

"Tetapi di Indonesia, saat ini masih ada yang menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM). Selain itu, di perusahaan rokok kretek, masih menggunakan mesin lintingan tangan. Jadi, semua itu menggunakan teknologiyang bersifat padat karya. Pemerintah mempunyai keberpihakan untuk melindungi teknologi tersebut, terutama untuk menyerap tenaga kerja," paparnya.

"Jadi pada saat memasuki revolusi industri ketiga, memang penyerapan tenaga kerja masing-masing di industri sudah berbeda. Sehingga, ini kita bedakan ada yang kelompok industri labour intensive," imbuhnya.

Namun efisiensi mesin dan manusia sudah mulai terkonektivitas dengan internet of things.

"Hari ini kita berbicara otomatisasi yang berbasis pada data dan internet, dan ini yang dilakukan di era Industri 4.0. Kalau dahulu, di dalam manufaktur, produsen dan konsumen terpisah. Tetapi saat ini, memungkinkan adanya co-creation antara pembeli dan produsen yang dapat menumbuhkan mikromanufaktur," pungkas Airlangga.