Jakarta, (Tagar 3/9/2018) – Pesta Asian Games 2018 telah usia. Sebanyak 2.175 atlet dan ofisial, sejak 19 Agustus, pulang ke negara asal mereka melalui Terminal III keberangkatan Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Kota Tangerang, Banten.

"Mereka berangkat ada yang rombongan dan perorangan," kata Annisa Hasanah, petugas pemantau kedatangan dan keberangkatan atlet dan ofisial Asian Games 2018 di Bandara Soekarno-Hatta, Minggu (2/9).

Annisa mengatakan, ofisial yang pulang lebih awal ada tiga orang pada 19 Agustus yakni dari Arab Saudi. Keberangkatan terbanyak pada 29-30 Agustus sebanyak 1.750 orang, berasal dari sejumlah negara seperti Arab Saudi, Malaysia, Thailand, China, Vietnam, Hong Kong, dan Nepal.

Bahkan terlihat atlet cabang bola basket dan voli asal Korea Selatan dan Arab Saudi pulang duluan, mereka tidak mengikuti upacara penutupan Minggu malam.

PENUTUPAN ASIAN GAMES 2018Maskot Asian Games 2018 (dari kiri) Bhin-Bhin, Atung, Kaka tampil dalam Upacara Penutupan Asian Games ke 18 tahun 2018 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu (2/9/2018). (Foto: Ant/INASGOC/Ikhwan Yanuar)

Annisa, petugas pemantau keberangkatan di bandara, seperti dirilis Antaranews juga melakukan pendampingan bagi mereka yang hendak membeli cenderamata di seputar bandara untuk dibawa ke negaranya.

Hingga Minggu (2/9) pagi pukul 09.30 WIB, tercatat sebanyak 448 atlet dan ofisial yang berangkat ke negara asal seperti Laos, Singapura, Korea, Filipina, dan Myanmar.

Balik Modal

Berakhirnya pesta olahraga yang ditandai oleh kepulangan para atlet dan ofisial, Duta Besar Indonesia untuk Polandia Peter F Gontha menyebutkan balik modal penyelenggaraan Asian Games 2018.

“Bahkan untung 15 triliun lebih dalam hitungan minggu, ini di luar royalty hak siar TV yang membeli hak siaran langsung Asian Games di seluruh negara peserta yaa…,” sebut Peter F Gontha di akun Facebook-nya, Minggu (2/9).

Pria kelahiran Semarang 4 Mei 1948 ini mengungkapkan, di luar jumlah pemasukan yang Rp 15 triliun tadi itu, belum termasuk pendapatan dari sponsor, iklan, dan tiket penonton yang selalu kehabisan.

“Presiden telah membawa uang masuk sebesar 45,1 triliun rupiah dengan bermodal 30 triliun untuk sistem transportasi di Jakarta-Palembang, infrastruktur stadion dan lain-lain, seremoni pembukaan dan penutupan,” tulis Peter F Gontha dengan huruf-huruf kapital.

Angka modal Rp 30 triliun dikutip Peter F Gontha dari pernyataan Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla. Sebelumnya Jusuf Kalla membeberkan jumlah anggaran untuk penyelenggaraan Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang.

Anggaran yang dibutuhkan tersebut disampaikan Jusuf Kalla usai melakukan rapat bersama Panitia Penyelenggara Asian Games (Inasgoc) 2018 di Kantor Komite Olimpiade Indonesia (KOI), Jakarta, Sabtu (25/3/2017).

Anggaran tersebut, kata Jusuf Kalla, meliputi biaya penyelenggaraan, pembangunan infrastruktur, dan sarana transportasi pendukung Asian Games 2018.

"Biaya untuk infrastruktur hampir Rp 7 triliun. Kemudian, perbaikan di Palembang dan DKI Jakarta hampir Rp 3 triliun. Keseluruhannya menjadi Rp 10 triliun," kata Jusuf Kalla.

"Ada juga infrastruktur jangka panjang, seperti transportasi di Palembang yakni Rp 7 triliun, dan di Jakarta Rp 10 triliun. Itu sudah Rp 27 triliun. Total keseluruhannya bisa mencapai Rp 30 triliun," paparnya.

Rapat di Kantor KOI itu dihadiri Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, perwakilan dari Menteri Pembangunan Umum dan Perumahan Rakyat, Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin, serta perwakilan Provinsi DKI Jakarta.

Saat itu, Jusuf Kalla berharap, akan ada pemasukan dari sponsor sehingga dapat membantu penyelenggaraan Asian Games 2018 yang berlangsung pada 18 Agustus hingga 2 September.
Itu tentang modal.

Berikutnya, Peter F Gontha menggarisbawahi soal keuntungan lain dari penyelenggaraan Asian Games 2018. “Jangan lupa sistem dan alat transportasi juga infrastruktur stadionnya, juga keuntungan besar tersendiri karena bisa dipakai hingga 100 tahun ke depan,” ujarnya.

“Belum lagi keuntungan ekonomi hotel dan wisata rakyat yang berjualan kuliner dan cendera mata,” imbuhnya.

Itu pun, kata bos BeritaSatu TV ini, “Masih ditambah lagi keuntungan terbesar berupa rasa nasionalisme dan bangga rakyat NKRI atas sikap seluruh dunia, juga rasa segan kepada Indonesia atas suksesnya pesta olahraga Asian Games 2018 di Indonesia.”

Apa yang dikemukakan Peter F Gontha juga mendekati pernyataan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro.

Bambang mengungkapkan bahwa Bappenas mencatat total dampak langsung dari penyelenggaraan Asian Games 2018 mencapai Rp 45,2 triliun. Rinciannya, pengeluaran peserta selama ajang berlangsung ditaksir mencapai Rp 3,6 triliun, porsi pengeluaran di Jakarta diperkirakan Rp 2,5 triliun dan Palembang Rp 1,1 triliun.

“Sektor penyumbang terbesar berasal dari akomodasi yang mencapai Rp 1,3 triliun dan transportasi mencapai Rp 640 miliar,” sebut Bambang di Kementerian Komunikasi dan Informatika, Minggu (13/5/2018) dalam diskusi bertajuk "Menghitung Dampak Ekonomi Asian Games 2018".

Selain itu, sektor industri makanan dan minuman diprediksi meraup pendapatan sebesar Rp 628 miliar. Sementara sektor wisata belanja akan meraih pendapatan Rp 560 miliar dan hiburan Rp 280 miliar.

Selain itu, biaya infrastruktur fasilitas pendukung Asian Games seperti pembangunan LRT baik di Jakarta dan Palembang, renovasi stadion Gelora Bung Karno (GBK), pembangunan wisma atlet, stadion Jakabaring mencapai Rp 34 triliun dengan biaya operasional penyelenggaraan acara mencapai Rp 7,2 triliun.

Belum Hitung

Jadi, seperti disebutkan Peter F Gontha, Indonesia dapat untung banyak dari perhelatan Asian Games 2018. Namun, Panitia Penyelenggara Asian Games 2018 (Inasgoc) hingga kini belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai pemasukan dan pengeluarkan. Alasannya lantaran belum memperoleh angka pendapatan cenderamata dan tiket penonton.

PENUTUPAN ASIAN GAMES 2018Warga berfoto dengan latar belakang kaldron saat berlangsung Upacara Penutupan Asian Games ke-18 Tahun 2018 di kawasan Stadion Utama GBK, Senayan, Jakarta, Minggu (2/9/2018). (Foto: Ant/INASGOC/Sigid Kurniawan)

"Kalau soal itu (pendapatan), kita belum hitung. Karena di beberapa counter souvenir penjualan masih berlangsung," kata Wakil Direktur Pendapatan Inasgoc Cahyadi Wanda.

Cahyadi mengatakan, sampai penutupan Asian Games pada Minggu (2/9) malam, proses akutansi dari transaksi masih terus berjalan.

Dia menyebutkan, di beberapa tempat penjulan ciri khas Asian Games Jakarta Palembang 2018, masih melakukan penjualan sampai beberapa pekan setelah gelaran usai.

"Nanti setelah selesai akan ada dalam laporan pertanggungjawaban," ujar Cahyadi yang sempat mengungkapkan pendapatan dari iklan untuk perhelatan Asian Games mencapai Rp 1,6 triliun.

Bukan cuma pendapatan dari penjualan souvenir dan marchandise yang angka-angkanya belum jelas. Menurut Cahyadi, jumlah penjualan tiket nonton juga belum dapat dipastikan, termasuk pendapatan saat upacara pembukaan dan penutupan.

“Harus ada angka yang pasti diketahui masyarakat agar gelaran Asian Games transparan dan terbuka. Kita akan laporkan itu secara resmi setelah Asian Games selesai," ucap Cahyadi.

Demikian argumentasi panitia. Dan, perhelatan Asian Games 2018 sudah usai. Dan, sebagaimana diketahui, penjualan ragam cenderamata resmi sudah dipasarkan sejak awal tahun lalu.

Di Jakarta misalnya, Inasgoc bekerjasama dengan sejumlah pihak ketiga sebagai produsen pernak-pernik Asian Games, yakni berupa kaos, maskot, jaket, dan topi. Termasuk ragam khas Asian Games berbentuk mainan dan gantungan kunci.

Selain dengan sejumlah pihak swasta, Inasgoc juga bekerja sama dengan banyak perusahaan ritel sebagai tempat resmi penjulan. Di beberapa titik ibu kota, Inasgoc membuka tempat penjulaan resmi pernak-pernik Asian Games, seperti di kawasan Gelora Bung Karno (GBK) dan di Jakarta Internasional Expo (JIE) Kemayoran.

Hasani Abdulgani selaku Direktur Reveneu Inasgoc pernah menyampaikan, sedikitnya ada 10 titik lokasi penjualan resmi pernak-pernik Asian Games di Jakarta.

Selain di Jakarta, di Palembang sebagai tuan rumah Asian Games juga tersedia banyak titik penjulan. Hasani mengatakan, khusus untuk penjualan cenderamata, Inasgoc menargetkan mampu mendapatkan keuntungan mencapai Rp 22 sampai 30 miliar.

Jumlah keuntungan tersebut, kata dia, sebagai target besar yang disampaikan kepada para sponsor yang nilainya mencapai Rp 1,5 triliun. []