Tigaras, (Tagar 23/6/2018) – Tim gabungan yang dikoordinir Basarnas melakukan pencarian korban KM Sinar Bangun yang tenggelam di perairan Danau Toba belum menemukan tambahan jumlah korban.

Pantauan di lokasi tenggelamnya kapal pada Jumat (22/6) di Tigaras, pencarian terhadap korban dilakukan sejak pagi hingga sore.

Sejumlah kapal yang dikerahkan mencari korban merapat ke posko utama di Tigaras. Ratusan keluarga korban masih berharap cemas menanti di Pelabuhan Tigaras. Namun, kabar yang mereka nantikan belum membuahkan hasil.

Tim Basarnas masih terus melakukan pencarian lanjutan. Peralatan canggih milik TNI AL yang dikerahkan untuk mencari korban di perairan Danau Toba kemungkinan akan dilanjutkan besok, Sabtu (23/6).

Jumlah korban yang ditemukan saat ini 19 orang selamat dan tiga orang meninggal. Korban meninggal ini atas nama Tri Suci Wulandari (24) warga Aceh Tamiang, Fahriyanti (47) warga Jalan Bendahara Kelurahan Pujidadi, Kecamatan Binjai Selatan Kota Binjai, dan Indah Juita Saragih (22) yang beralamat di P Sidamanik.

Sinar Bangun yang Pertama

Abdul Karim Sitio (72), warga Nagori (Desa) Tigaras, Kecamatan Dolok Pangaribuan mengungkapkan, tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba jalur penyeberangan Pelabuhan Tigaras (Kabupaten Simalungun) - Pelabuhan Simanindo (Kabupaten Samosir), Sumatera Utara, merupakan kapal penumpang pertama yang mengalami kecelakaan.

"Setahu saya, kapal penumpang baru ini yang tenggelam, kalau orang dan kapal cepat pernah terjadi sebelumnya," kata Abdul Karim Sitio, Jumat (22/6).

Generasi ketujuh dari keluarganya itu juga memastikan, sejak dibukanya operasional penyeberangan Tigaras-Simanindo tahun 1938, tidak pernah mendengar atau diceritakan adanya kapal tenggelam.

Menurut mantan kepala desa itu, para leluhur memperhatikan keselamatan diri dan penumpang dengan membuat alat penyeberangan yang disesuaikan kondisi alam.

"Kala itu pakai sampan dan kapal kecil yang muatan maksimal 15 orang," ujarnya.

Dia menyebutkan, dalam cuaca yang sangat buruk di kawasan jalur Tigaras-Simanindo, ketinggian ombak mencapai empat meter. Bahkan di dua titik bisa terjadi pusaran air.

Kepala Dinas Perhubungan Pemkab Simalungun, Ramadhani Purba mengatakan, secara keseluruhan kecelakaan kapal penumpang di Danau Toba terjadi tujuh kali.

"Untuk jalur Tiga Ras-Simanindo memang baru kali ini," kata dia.

Untuk saat ini, ada enam kapal kayu yang beroperasi di jalur Tiga Ras-Simanindo dengan tiga sampai empat trip (perjalanan) per unitnya. Setelah kecelakaan, layanan penyeberangan dihentikan sementara waktu sampai proses pencarian dinyatakan berakhir.

Tragedi Terburuk

Tenggelamnya Kapal Motor (KM) Sinar Bangun di perairan Danau Toba Senin, 18 Juni 2018 adalah sebuah tragedi terburuk dalam kecelakaan yang terjadi pada musim libur Lebaran tahun 2018. Belum diketahui pasti berapa total penumpang yang menjadi korban dalam musibah ini.

Lima hari berlalu setelah peristiwa tersebut, satu demi satu kejanggalan dan pertanyaan kemudian mencuat, mulai dari kelaiklautan kapal yang tidak sesuai regulasi, manifes pelayaran, nahkoda yang tidak terdaftar secara resmi (nakhoda tembak), hingga lambatnya respons pencarian dan pertolongan.

Sahat SinuratKetua Umum Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Sahat Sinurat. (Foto: Tagar/Gilang)

“Padahal nilai yang diutamakan dalam suatu musibah adalah setiap detik berharga bagi keselamatan korban. Selain itu minimnya upaya trauma healing bagi keluarga korban,” kata Ketua Umum GMKI Sahat Martin Philip Sinurat di Ruang Crisis Center Pengurus Pusat GMKI, Salemba, Jakarta Pusat, Jumat (22/6).

Sahat mengakui, berdasarkan penelusuran yang mereka lakukan dalam proses pencarian dan pertolongan pertama, di sekitar Danau Toba sebenarnya ada peralatan pertolongan yang memadai. “Seperti banyaknya kapal milik perusahaan, individu, maupun instansi di kawasan Danau Toba,” jelasnya.

Begitu juga dengan adanya beberapa helikopter yang ditempatkan di Sumatera Utara, baik milik Polri, TNI, Basarnas, dan milik beberapa individu dan perusahaan swasta di sekitar Danau Toba. “Sayangnya pada hari pertama, pertolongan yang maksimal dari kapal dan helikopter tidak segera dilakukan,” tukas Sahat.

Selanjutnya hingga hari ini, sebut Sahat, ada kabar bahwa para korban kapal terjebak di dalam bangkai kapal. Bisa diartikan, pada saat tim pertolongan dan pencarian yang pertama sampai di dekat lokasi kapal tenggelam, tidak dilakukan observasi bawah air.

Kemudian satu hal yang juga menjadi pertanyaan, menurut Sahat, mengenai koordinasi terkait manajemen dan sistem pelayaran di kawasan Danau Toba. “Bagaimana koordinasi antarinstansi ketika terjadi kondisi tanggap darurat seperti yang terjadi saat ini? Bagaimanakah peranan dan koordinasi di antara Pemerintah Kabupaten Samosir, Pemerintah Kabupaten Simalungun, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, Badan Otorita Danau Toba, Kementerian Perhubungan, Kemenko Maritim, Basarnas, dan berbagai instansi lainnya?” sergahnya.

Dia menyebutkan, pada 20 Juni 2018 lalu, Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya menyampaikan bahwa pemerintah akan melakukan audit kelaikan kapal. “Menjadi pertanyaan bagi kita, apakah selama bertahun-tahun, instansi terkait rutin melakukan audit kelaiklautan kapal?” tukas Sahat.

“Ataukah ada pembiaran dan kesengajaan dari pihak instansi dan swasta, sehingga kapal yang tidak memenuhi regulasi dapat tetap berlayar secara rutin?” kejar Sahat lebih jauh.

Apalagi, kecelakaan yang kurang lebih sama sudah pernah terjadi tahun 1997, yakni tenggelamnya KM Peldatari I yang memakan banyak korban jiwa. Kapal tenggelam karena mengangkut penumpang melebihi daya angkutnya.

Dalam insiden maut itu, sebanyak 83 korban ditemukan tewas dan puluhan penumpang lainnya hilang, 85 korban ditemukan selamat. “Apakah selama belasan tahun ini, audit kapal dan sistem pelayaran sudah dilakukan secara berkala di seluruh pelabuhan di Indonesia, khususnya dalam kasus ini, di Danau Toba?” ucap Sahat.

Dia sangat menyayangkan, jika visi baik dari pemerintah khususnya Presiden Jokowi untuk membangun Poros Maritim Dunia dan Tol Laut, ternyata tidak bisa diterjemahkan secara lebih rinci dan teknis di tingkatan lapangan. “Apalagi kami menduga ada kebobrokan pengelolaan sistem pelayaran yang sudah berlangsung selama puluhan tahun. Kami menduga kondisi yang terjadi di Danau Toba, juga banyak terjadi di pelabuhan-pelabuhan lainnya di Indonesia,” jelasnya.

Sahat menyebutkan, berdasarkan beberapa temuan awal yang mereka peroleh, Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia akan menggunakan seluruh potensi organisasi yang ada di Sumatera Utara untuk melakukan langkah investigasi. Tim ini nantinya akan memberikan perimbangan informasi yang beredar tentang hal-hal yang berkaitan dengan peristiwa tenggelamnya kapal Sinar Sinabung.

“Hasil dari investigasi ini kami akan sampaikan ke beberapa pihak terkait dan kami harapkan dapat memperjelas kondisi yang saat ini terjadi di Danau Toba, dan menjadi evaluasi berharga untuk memperbaiki sistem pelayaran di Indonesia,” paparnya.

Selain akan melakukan investigasi, Pengurus Pusat GMKI juga akan membentuk posko konseling untuk korban dan keluarga korban, sehingga keluarga korban yang saat ini mengalami tekanan kesedihan dan kelelahan bisa mendapatkan trauma healing. Begitu juga anak-anak keluarga korban dapat didampingi.

“Semoga dukungan ini dapat membantu keluarga korban dan meringankan beban kesedihan yang dirasakan keluarga korban,” harapnya. (ard/yps)